Tausiyah

Merenungi Hakikat Dunia

Barangsiapa pada pagi hari aman dalam kelompoknya, sehat tubuhnya, memiliki pangan untuk seharinya, maka dia seolah-olah memperoleh dunia dengan segala isinya.” (HR. Tirmidzi)

Setelah beberapa waktu, akhirnya sempat juga menulis kembali. Dari berbagai diskusi dan masukkan, akhirnya saya memutuskan untuk merenungi apa hakikat dunia itu sesungguhnya. Karena dunia seringkali membuat kita sibuk dengan segala urusannya, membuat kita lupa akan prioritas dalam hidup dan membuat kita lalai membekali diri kita dengan bekal taqwa.

Jelas dunia harus memiliki peran yang penting dalam hidup kita. Tidak mungkin Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah di dunia ini jika tidak ada kepentingan terhadap dunia. Hanya saja, tentu ada perbandingan antar satu kepentingan dengan kepentingan yang lain yang mungkin sama atau lebih besar manfaat dan mudharatnya bagi kita. Jangan sampai kita lalai memahami hal ini sehingga prioritas kita kacau balau, dan malah kehilangan kesempatan untuk meraih keuntungan maksimal bagi diri kita.

Firman Allah SWT,

”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi ..” (QS 28: 77)

Memenuhi kebutuhan hidup di dunia adalah sebuah keharusan berdasarkan perintah Allah dalam ayat di atas. Ajaran Islam sedemikian fitrah dalam memahami kebutuhan manusia sehingga tidak menafikan segala sesuatu kebutuhannya, sehingga dalam hal dunia pun sudah diperintahkan kepada kita. Sungguh besar rahmat Allah atas diri kita yang telah mendapatkan petunjuk. Demikian juga ditunjukkan dalam sabda Rasulullah SAW, “Janganlah kalian mencaci-maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya orang dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan.” (HR. Ad-Dailami)

Dunia adalah sebaik-baik kendaraan,” demikian Rasulullah SAW mengajarkan kita mengenai dunia. Dilanjutkan dengan alasannya bahwa, “Dengannya orang dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan.”  Hadits ini menjelaskan dengan sempurna bahwa dunia adalah semata-mata alat untuk mencapai tujuan. Digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai kendaraan untuk meraih kebaikan dan keselamatan dari kejahatan.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya.” (HR. Ibnu Majah)

Betapa singkatnya dunia jika hanya digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai “berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya.” Selain alat, dunia juga digambarkan sebagai tempat persinggahan sementara yang sangat singkat, sekedar beristirahat, sebelum akhirnya kita melanjutkan kembali perjalanan. Sebagaimana juga dijelaskan dalam hadits lain dari Ibnu Umar ra, Rasulullah SAW memegang pundakku dan bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan. Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari)

Inilah hakikat dunia. Sebagai alat bagi kita untuk meraih kebaikan, mencari keselamatan, dan juga sebagai tempat persinggahan sementara. Dengan pemahaman seperti ini, tentu kita harus mempersiapkan diri untuk segera meninggalkan dunia, melanjutkan perjalanan dengan sebelumnya menggunakan dunia sebaik-baiknya sebagai alat untuk meraih segala kebaikan dan jaminan akan keselamatan kita.

Rasulullah SAW memberikan kita penjelasan akan dunia jauh lebih banyak lagi, yaitu mengenai kedudukan dunia di sisi Allah SWT. Tidaklah lengkap kita memahami hakikat dunia sebelum kita melihat bagaimana dunia di sisi Penciptanya.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan Rasulullah SAW melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata: “Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah SAW kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?”. “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim)

Sungguh mulia Allah yang dengan kesendirian dan keperkasaan-Nya tidak membutuhkan sekutu dari siapapun dan apapun juga. Kehinaan dunia disisi Allah SWT menjelaskan kepada kita akan sebuah kenistaan bagi kita dalam mengejar dunia secara berlebihan. Karena untuk apa kita mengejar sesuatu yang hina di sisi Allah SWT, dan jelas-jelas Allah SWT tidak akan sudi menerimanya dari kita? Peringatan Allah SWT akan hal ini jelas dan tegas dalam Al Quran.

Firman Allah SWT,

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. 102:1-8)

Firman Allah SWT,

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. 89:15-20)

Wallahu a’lam bish showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s