Pemikiran

Al Ilaah, Ar Rabb, Ibadah dan Ad-Diin

Islam adalah agama yang terpusat pada satu hal. Yaitu TAUHID. Hal ini merupakan salah satu daya tarik agama ini yang kemudian menyedot perhatian banyak orang non-Muslim. Karena konsep ketuhanan yang sangat sederhana, jelas, tegas, dan sangat mudah untuk diaplikasikan dibanding dengan pemahaman akan tuhan dari agama lain. Setidaknya demikianlah pengalaman pribadi saya.

Dengan dasar ketertarikan saya akan konsep ketuhanan yang ditawarkannya, saya berusaha memahami dan mengenali Tuhan yang Tunggal. Keagungan akan sifatnya yang satu ini sangat menarik buat saya. Betapa Allah SWT tidak membutuhkan pendamping, sekutu, bantuan, atau apapun itu yang dapat mengurangi keagungan-Nya, dalam melakukan kehendak-Nya. Hal ini hanya dapat digambarkan oleh satu kata yang sangat pas menurut saya, yaitu KESEMPURNAAN. Ya, tauhid adalah wujud kesempurnaan dari agama ini. Tauhid murni kepada Allah SWT yang menjadi landasan aplikatif dari setiap pemikiran, sikap, tindakan, pernyataan, dan amalan kita. Subhanallah, segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Agung.

Dalam sebuah kajian, saya mendapatkan referensi buku yang sangat bermanfaat dari salah seorang ustadz yang saya hormati. Ketika itu saya menanyakan mengenai pengertian agama dan ibadah kepadanya. Beliau memberikan saya sebuah referensi buku dari Abu A’la Al Maududi yang berjudul Al Mushthalahat Al Arba’atu fi Al Quran atau terjemahannya Empat Istilah dalam Al Quran, untuk membantu saya memahami istilah-istilah inti dan penting dalam mempelajari al Quran. Alhamdulillah, saya mendapatkan buku tersebut. Dan kini dengan segala keterbatasan yang ada, saya hendak berbagi sedikit mengenai apa yang berhasil saya pahami dari buku tersebut. Semoga dapat memberikan manfaat dan juga menuai koreksi atas pemahaman saya yang sangat mungkin sekali memiliki kesalahan.

Al Maududi menganggap penting untuk memberikan pengertian dan pemahaman dari keempat istilah yang dibahas dalam bukunya ini. Beliau mengatakan kalau empat istilah ini, kini telah mengalami pengurangan makna yang kemudian mengakibatkan keruntuhan aqidah secara perlahan-lahan. Sebagaimana kita lihat pada masa ini, dimana pelaku kemaksiatan dihargai dan penjaga sunnah malah dihujat. Ini adalah bagian kecil dari dampak pemahaman yang salah terhadap empat istilah ini. Penyimpangan pemahaman ini dapat berakibat fatal dan berujung kepada kekufuran dan kemusyrikan. Demikianlah Al Maududi menilai pentingnya untuk memahami istilah-istilah ini sebagaimana orang Arab pada masa Rasulullah SAW memahaminya.

1. Al Ilaah

Beberapa ulama menyatakan kalau nama Allah adalah nama serapan dari kata ini, al Ilaah. Kata ini mengandung makna “yang disembah, memenuhi kebutuhan, keselamatan, ketenangan, kesucian, pengayoman, dan memiliki kekuatan”. Al Maududi menjelaskan lebih lanjut mengenai makna yang dikandung dari kata ini adalah segala sesuatu yang disembah sebagai bentuk pengharapan akan pemenuhan kebutuhan, yaitu memberikan ketenangan, pengayoman, keselamatan, karena kesadaran akan kekuatan dan kemampuannya.

Penyimpangan yang terjadi dari pemahaman ini adalah ketika segolongan umat menyakini bahwa ada sesembahan lain yang dapat mendatangkan manfaat dan menimpakan mudharat atas mereka dan layak untuk disembah, selain daripada Allah SWT. Sesembahan ini tidak haruslah berupa patung berhala, pohon, atau jimat. Al Maududi mengatakan kalau sesembahan ini dapat berupa orang yang sudah meninggal atau bahkan masih hidup. Keberadaan mereka ini, para sesembahan, diyakini dapat mendatangkan manfaat ataupun bahaya.

Hal ini terjadi sehingga mereka menyembahnya dengan penuh pengharapan seakan-akan sesembahan mereka itu mendengar permintaan mereka dan mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Demikian juga mereka berusaha untuk menyenangkan sesembahan mereka tersebut dengan memberikan mereka sesajian, demi menghindari kemurkaan sesembahan tersebut dengan penuh rasa takut dan ketundukan kepadanya, seakan-akan sesembahan itu dapat mencelakakan mereka.

Dan sebagian mereka menundukkan diri mereka dengan penuh pengharapan dan ketakutan kepada sesembahan yang antara lain adalah manusia juga. Mereka menjadikan perintahnya sebagai syariat bagi mereka, yang harus mereka laksanakan dengan penuh ketaatan. Mereka berhukum kepada syariat tersebut, berpandangan berdasarkan syariat tersebut, dan mereka menolak sumber lain selain daripadanya. Hukum haram dan halal ditentukan oleh manusia tersebut. Apa yang diperbolehkannya adalah halal, dan apa yang ditentangnya atau dilarangnya adalah haram. Demikianlah mereka telah menjadikan orang tersebut sebagai tandingan Allah SWT, sekutu bagi Allah SWT. Termasuk dalam pengertian ini adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berpandangan bahwa dirinya berada diatas segala-galanya.

Maka terjadilah penyimpangan dimana segolongan manusia mengambil tuhan selain dari Allah SWT, berhukum selain daripada hukum Allah SWT, berundang-undang selain daripada yang telah ditentukan oleh Allah SWT, dan berperaturan menyalahi ketentuan Allah SWT.

2. Ar Rabb

Dijelaskan oleh Al Maududi mengenai kata ar Rabb, mengandung beberapa makna yang antara lain adalah :

  • Pendidik yang mecukupi segala kebutuhan dan melaksanakan masalah pendidikan dan pembentukan.
  • Penanggung dan pengawas, yaitu yang bertanggung jawab dalam pendidikan dan perbaikan.
  • Pemimpin yang berada di sebuah kaum, dimana ia sebagai tempat mereka berkumpul.
  • Tuan yang ditaati, pemimpin serta pemegang kekuasaan yang dilaksanakan segala keputusannya, dan yang diakui ketinggian dan kewibawaannya serta yang memiliki penilaian atas tingkah laku.
  • Raja dan tuan.

Demikianlah tampak dari makna kata ini, mengandung pemahaman sesuatu yang memberikan arahan, pembinaan, petunjuk, perintah dan larangan yang kemudian diikuti oleh kaum yang mengakui dan menerimanya sebagai sesuatu yang lebih tinggi dan lebih agung dari kaum tersebut. Ar Rabb mengandung makna pemilik perintah, larangan dan kekuasaan tertinggi, sumber petunjuk dan penuntun, tempat kembalinya undang-undang dan syariat, penguasa negeri dan kerajaan dan pusat berkumpul.

Al Maududi mengambil beberapa contoh kaum yang dikisahkan dalam al Quranul Karim, yang telah mengingkari sifat ketuhanan dari Allah SWT sebagai Tuhan yang layak untuk diikuti segala arahan, binaan, petunjuk, perintah dan larangan-Nya.

  • Kaum Nabi Nuh as tidak mengingkari keberadaan Allah SWT. Mereka juga tidak mengingkari penciptaan alam semesta ini oleh Allah SWT, bahwa Allah-lah Tuhan yang memiliki kelayakan untuk disembah. Hanya saja mereka juga mengakui adanya tuhan-tuhan lain yang juga mereka sembah selain daripada Allah SWT.
  • Kaum Nabi Hud as juga tidak mengingkari keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan. Namun mereka juga mengadakan tuhan-tuhan lain sebagai sesembahan mereka, dan mereka jadikan hukum penguasa-penguasa mereka sebagai syariat yang mereka jalankan, walaupun bertentangan dengan hukum Allah SWT.
  • Kaum Tsamud juga tidak mengingkari ketuhanan dari Allah SWT, dan tidak ada yang layak disembah selain daripada Allah SWT. Namun mereka enggan untuk taat kepada Allah SWT dan lebih memilih mengikuti pemimpin-pemimpin mereka dan ulama-ulama mereka, sebagaimana kaum Aad.
  • Nabi Ibrahim as hidup ditengah-tengah kaum yang juga mengakui ketuhanan Allah SWT. Hanya saja kaum Nabi Ibrahim as menyekutukan sifat uluhiyyah Allah SWT kepada benda-benda langit, dimana mereka menyembahnya. Mereka juga menisbatkan sifat rubuhiyyah Allah SWT kepada pemimpin-pemimpin mereka, dimana mereka mentaati para pemimpin mereka daripada mereka mentaati Allah SWT.
  • Kaum Nabi Luth as, menolak untuk taat kepada ketentuan Allah SWT walaupun mereka mengakui keberadaan dan ketuhanan Allah SWT.
  • Kaum Nabi Syu’aib as menyembah tuhan-tuhan lain selain daripada Allah SWT. Disamping itu, yang perlu ditekankan adalah bahwa mereka berkeyakinan bahwa rubuhiyyah Allah SWT tidak ada hubungannya dengan masalah kehidupan manusia; akhlak, tingkah laku, sosial, ekonomi, pembangunan dan politik. Mereka menolak untuk taat kepada ketentuan Allah SWT karena mereka berkeyakinan bahwa mereka bebas melakukan segala sesuatunya dalam kehidupan sosial mereka. Fenomena sekulerisme sebagaimana kita sering temui pada masa kini, telah hidup dan berkembang pada penduduk Madyan.
  • Demikian juga dengan kaum Fir’aun, dimana pemimpin mereka memiliki kesombongan dan fanatisme yang luar biasa besarnya terhadap kebangsaan dan keturunan Mesirnya itu. Mereka melihat umat manusia lain yang diluar dari kebangsaan dan keturunan mereka adalah lebih rendah dari mereka dan lebih parah lagi menganggap diri mereka sebagai tuhan atas umat manusia lainnya.
  • Demikian juga dengan bangsa Arab sebelum kenabian Rasulullah SAW. Mereka mengakui bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah SWT dan mereka juga menerima Allah SWT sebagai Tuhan mereka. Namun mereka juga mengangkat tuhan-tuhan lain yang mereka sembah, dengan anggapan bahwa sesembahan mereka itu akan mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT. Mereka juga menjadikan pemimpin-pemimpin mereka sebagai rujukan hukum dan syariat hidup mereka.

Pengingkaran umat-umat terdahulu sebagaimana dibahas diatas, selain mereka menyembah kepada selain Allah, adalah mereka mengambil peraturan, undang-undang, hukum, syariat, selain daripada Allah SWT sebagai Tuhan yang memiliki hak untuk menentukan itu semua. Dengan demikian mereka telah menyekutukan kekuasaan Allah SWT dalam menentukan hukum syariat, undang-undang, peraturan, segala urusan kemasyarakatan, ekonomi, sosial dan politik atas mahluk-Nya.

3. Ibadah

Al Maududi membagi ibadah menjadi dua poin utama. Ibadah dalam pengertian ketaatan serta penghambaan, dan juga penyembahan (menjadikan sesuatu sebagai tuhan). Sementara ibadah sendiri mengandung makna ketundukan diri seseorang atas sesuatu dan kesediaannya untuk mengikuti perintah dan larangannya.

Dalam hal ketaatan, ibadah dilakukan sebagai bentuk ketundukan seseorang terhadap sesuatu sehingga ia bersedia melakukan sebagaimana diperintahkan kepadanya atau menjauhi apa yang dilarang atasnya. Orang tersebut tidak akan membantah karena ketaatannya terhadap sesuatu tersebut yang diakui sebagai yang layak untuk ditaati. Ibadah juga

Dalam sebuah hadits yang sudah sering kita dengar, dari Adi bin Hatim ra, sangat cocok untuk mendeskripsikan ketaatan dan penghambaan dari segolongan umat atas ulama mereka sebagai sebuah bentuk penyembahan/ibadah. Dimana umat tersebut menjadikan apa yang diperintahkan oleh ulama-ulama mereka sebagai kewajiban atas mereka. Mereka menghalalkan apa yang dihalalkan oleh para ulama mereka dan mereka mengharamkan apa yang diharamkan oleh ulama mereka. Dengan demikian mereka secara tidak langsung mengakui adanya mahluk lain yang memiliki kekuasaan atas mereka selain daripada Allah SWT.

Sebagai contoh, dapat kita bandingkan peringatan-peringatan hari raya dalam masyarakat kita. Islam mengenal perayaan Idul Adha sebagai sebuah peringatan akan sebuah kemenangan tauhid dari salah seorang nabi agama Islam, dimana rasa takutnya kepada Allah SWT lebih besar daripada kecintaannya kepada anak sulungnya sendiri. Hari ini dirayakan oleh umat Islam dengan mengadakan sebuah upacara penyembelihan hewan kurban. Ini adalah sebuah ibadah dimana umat Islam menyatakan ketaatan mereka terhadap perintah Allah SWT yang memerintahkan mereka untuk menyembelih hewan kurban pada hari tersebut.

Contoh lain adalah ketika setiap tanggal 1 Oktober, pemerintah Indonesia merayakan salah satu hari raya Kesaktian Pancasila. Hari raya ini diperingati sehubungan dengan ‘kemenangan’ pemerintah dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi dasar negara. Dalam upacara ini, jika kita hubungkan dengan makna dari ibadah, ada bentuk ketaatan terhadap pemerintah sebagai penguasa yang memerintahkan untuk merayakan hari tersebut, dan juga pengagungan (penyembahan/menjadikan sesuatu sebagai yang layak disembah) terhadap ideologi tersebut. Ini adalah salah satu ibadah yang dilakukan dan ditujukan kepada selain daripada Allah SWT.

4. Ad-Diin

Kata ad-Diin mengandung beberapa makna. Dalam al Quran, kata ini digunakan untuk mendefinisikan seperangkat kekuasaan yang memberikan perintah dan larangan, hukum, syariat, undang-undang, dan dapat dipaksakan kepada segolongan umat oleh pihak yang berkuasa dimana mereka menyadari bahwa mereka akan mendapatkan balasan atas perbuatan mereka berdasarkan kekuasaan sang penguasa tersebut jika mereka melaksanakan perangkat aturan tersebut.

Al Maududi menyatakan bahwa ad-Diin adalah peraturan dan tata cara hidup, dimana seseorang benar-benar merendahkan diri di hadapan penguasa semesta alam, yang kemudian berlanjut dengan sikap taat dan mengikuti serta mengikat hidupnya dengan peraturan dan tata cara tersebut. Hal ini disebabkan atas pengharapannya akan keridhaan, kemuliaan serta balasan yang sangat baik, dan rasa takut jika peraturan tersebut dilanggar sehingga dirinya akan mendapatkan kenistaan dan keburukan.

Maka jika seseorang melandaskan kehidupannya kepada apa yang telah diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT sebagai suatu hal yang mengikat dirinya, dan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan tersebut dia mengharapkan keridhaan Allah dan juga takut akan murka Allah SWT, itulah ad-Diin yang ditujukan dan bersumber dari Allah SWT, Pemilik Alam Semesta. Kondisi ini dilakukannya dengan penuh kesadaran bahwa segala kebaikan datang dari Allah SWT, sehingga dia akan mengharapkan keridhaan-Nya. Ia juga akan menyakini kalau murka Allah adalah sebuah kehinaan bagi dirinya sehingga ia akan merasa takut dan cenderung menghindari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. Inilah ad-Diinul Islam yang masuk dalam pengertian itu.

Demikian juga jika segolongan bangsa melandaskan interaksi sosialnya, politiknya, ekonominya kepada apa yang telah diatur oleh Allah SWT sebagai Tuhan yang mereka sembah. Mereka menjalankan syariat yang telah ditentukan atas mereka yang berisi perintah dan larangan yang mencakup seluruh aspek kehidupan mereka tersebut (sebutlah akhlak, aqidah, sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya), dengan penuh pengharapan akan keridhaan Allah SWT dan takut akan kemurkaan Allah SWT atas mereka, maka Al Maududi menyatakan bahwa mereka inilah yang dinyatakan dalam ayat al Quran sebagai ad-Diinul Haq.

Maka apabila seseorang meletakkan prinsip dasar hidupnya kepada hal selain daripada Allah SWT, seperti harta, kekuasaan, hawa nafsu, syahwat, dan lain sebagainya, itulah ad-Diin yang dianutnya. Orang tersebut beranggapan kalau apa yang menjadi ad-Diin baginya adalah apa yang akan memberikan kebaikan kepadanya dan menjauhinya dari kesusahan. Dia akan mengikuti seperangkat aturan hidup, syariat, hukum yang akan membuatnya merasa lebih dekat dengan apa yang menjadi landasan ad-Diin baginya tersebut, walaupun jika perangkat aturan hidup tersebut bertentangan dengan ketentuan yang telah diberikan Allah SWT kepadanya.

Segolongan bangsa atau kaum yang melandaskan kehidupan mereka, perangkat hukum mereka, syariat mereka, pandangan mereka atas selain daripada apa yang telah diberikan oleh Allah SWT berarti telah menjadikan hal tersebut sebagai ad-Diin bagi mereka. Sebutlah apakah itu suara rakyat, konsensus ulama, pemimpin, jamaah, atau apa saja. Mereka mengharapkan keridhaan dari yang menjadi landasan ad-Diin mereka tersebut.

Bagi yang melandaskan ad-Diin mereka pada suara rakyat, maka mereka akan berusaha mendapatkan keridhaan dari rakyat mereka dimana mereka melandaskan segala sesuatu kepada kehendak dari rakyatnya walaupun jika kehendak rakyat tersebut harus bertentangan dengan ketentuan Allah SWT. Mereka akan menghindari apa-apa yang dapat menyebabkan kemurkaan rakyatnya karena beranggapan hal tersebut dapat mencelakakan mereka.

Bagi yang melandaskan ad-Diin mereka kepada pemimpin, pemuka agama, atau jamaah, mereka akan mengharapkan keridhaan dari pemimpin, pemuka agama dan jamaah mereka itu. Mereka juga akan menghindari apa-apa yang dapat menyebabkan kemurkaan pemimpinnya, pemuka agamanya, dan jamaahnya. Walaupun apabila ad-Diin yang mengikat mereka akan bertentangan dengan ketentuan Allah SWT, mereka akan tetap menjalaninya.

Demikianlah apa yang dapat saya pahami dari keempat istilah tersebut. Penolakan kaum kafir Quraisy terhadap seorang Muhammad bin Abdullah SAW bukanlah penolakan atas kepribadian beliau. Mereka tidak menganggap beliau sebagai seorang pendusta, perusak, pemfitnah, dan lain sebagainya. Mereka mempercayai Rasulullah SAW dengan segala harta mereka bahkan ketika mereka sedang memusuhinya karena mereka tahu bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang dapat dipercaya, baik akhlaknya, jujur, dan tidak akan mencurangi mereka. Mereka berinteraksi secara langsung dengan kemuliaan seorang Muhammad bin Abdullah SAW sehingga mereka mencintainya sebagai bagian dari kaumnya.

Penolakan mereka adalah kepada apa yang diusung oleh Rasulullah SAW yang akan mengubah cara hidup mereka, ada istiadat mereka, kebiasaan mereka, nilai-nilai moralitas mereka, dan juga tata cara mereka mengatur kekuasaan mereka. Dasar yang sama yang membuat segolongan nabi ditolak oleh kaum mereka ketika mereka menda’wahkan tauhid, bahwa Allah SWT adalah al-Ilaah yang layak disembah dan ar-Rabb yang layak untuk diikuti. Mereka menolak untuk menghambakan diri mereka kepada Allah SWT semata, dan memilih untuk menghambakan diri mereka kepada nenek moyang mereka sehingga ibadah mereka tidak semata-mata untuk Allah SWT. Mereka menolak untuk memberikan hak kekuasaan mutlak untuk mengatur mereka sebagai sebuah bangsa kepada Allah SWT dan lebih mengutamakan hawa nafsu mereka akan kekuasaan dan harta.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang-orang yang beruntung, baik di dunia terutama di akhirat. Hanya kepada Allah SWT kita menundukkan kepala dan hati kita, dan hanya kepada-Nya kita berharap akan segala keridhaan.

Allahu a’lam bish shawab.

2 pemikiran pada “Al Ilaah, Ar Rabb, Ibadah dan Ad-Diin

  1. ini merupakan tulisan yg bisa diandalkan oleh setiap muslim utk mengukur diri masing2 apakah kita sdg menyimpang dari rel yg benar atau masih sejalan dgn keimanan tauhid kpd ALLAH SWT. Dan sangat penting utk mengharungi kehidupan zaman kini yg penuh dgn tipudaya, demi menghindari ketertipuan dan selamat sampai akhir hayat kita. Semoga ALLAH SWT membalas kebaikan penulisnya dgn pahala yg berlipat ganda atas sharingnya di sini.amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s