Tausiyah

Renungan Malam Ini..

Jika kita membaca kisah mengenai para Sahabat ra, maka tidak akan muncul sebuah keheranan mengenai mengapa Allah SWT merahmati mereka dan meridhai mereka. Betapa besar kecintaan mereka kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, sampai-sampai mereka rela mengorbankan diri mereka beserta keluarganya jika memang diperlukan. Tidak kurang dari puluhan atau mungkin ratusan yang menceritakan kisah-kisah heroik mereka yang mengagumkan. Kisah-kisah mengenai betapa zuhud dan pemurahnya mereka demi jihad fisabilillah juga merupakan sebuah bab yang seakan tidak ada habisnya.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan hidayah kepada mereka dan melapangkan hati mereka dengan kehendak-Nya. Rasulullah SAW begitu mencintai mereka karena ridha Allah kepada mereka. Beberapa kali bahkan Rasulullah menyatakan kesediaannya menjadi saksi bagi mereka di akhirat nanti. Ada kisah-kisah dimana Rasulullah memohonkan keridhaan Allah SWT atas mereka, dan Allah SWT pun dalam beberapa kesempatan menyatakan keridhaan-Nya atas mereka. Para Sahabat ra ini pantas untuk dijadikan teladan bagaimana seharusnya beriman dan beramal di jalan kebenaran.

Salah satu bab yang tidak kalah mengesankan bagi saya adalah bab pertobatan para sahabat yang hidup semasa dengan Rasulullah SAW. Dari mulai nama-nama besar seperti Umar bin Khattab ra, sampai kepada sahabat ra yang tidak dikenal menunjukkan tekad yang luar biasa dalam bertobat kepada Allah SWT. Perbuatan mereka yang menyalahi aturan agama segera disesali dengan segala kesungguhan yang seringkali mencederai diri mereka sendiri.

Sebut saja pertobatan Ka’ab bin Malik ra, dimana beliau dikucilkan oleh umat Islam selama berhari-hari. Bersamaan dengan Ka’ab bin Malik ra, turut dikucilkan juga Hilal bin Ummayah dan Mararah bin Rabi’ah. Mereka bertiga dikucilkan karena telah berusaha menghindari berperang bersama Rasulullah. Mereka memiliki kesempatan untuk menghindari hukuman jika mereka mau berbohong dengan memberikan alasan palsu sebagaimana orang munafik, tapi mereka memilih untuk jujur kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan juga kepada diri mereka sendiri. Dan kemudian mereka dihukum.

Mungkin kita sudah sering mendengar mengenai nama Ka’ab bin Malik ra. Tapi pernahkah kita mendengar kedua orang yang bersama dengan beliau ra dalam menjalani hukuman pengucilan itu? Rasanya jarang, bukan? Dalam kitab Mukhatasharu Kitabit-Tawwabiin, Ibnu Qudamah menuliskan mengenai salah satu dari kedua sahabat itu, yaitu Hilal bin Umayyah. Dan ketika membacanya saya merasakan besarnya rasa takut mereka terhadap Allah SWT melebihi rasa takut akan melukai diri mereka sendiri.

Hilal bin Umayyah adalah seorang lanjut usia dan lemah. Usia beliau ketika peristiwa ini terjadi seharusnya dapat menghindarkan beliau dari hukuman pengucilan tersebut. Hilal bin Umayyah termasuk dalam para sahabat yang turut berjihad dalam perang Badar. Tentu ini dapat menjadi sebuah pertimbangan bagi Rasulullah SAW dan dapat memberikannya keringanan. Namun tidak demikian, beliau lebih takut jika harus berbohong kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Subhanallah. Penyesalannya tidak kalah hebat dari Ka’ab bin Malik dan Mararah bin Rabi’ah. Dikisahkan bahwa selam dalam pengucilan, Hilal bin Umayyah terus-terusan menangis sampai-sampai beliau tidak bisa lagi bergerak. Dan Hilal bin Umayyah turut merasakan besarnya ampunan Allah SWT setelah sebelumnya merasakan sempitnya hati berada jauh dari kasih Allah SWT.

Demikian juga dengan Abu Lubabah ra, yang bertobat dan menyesali perbuatannya lalu kemudian mengikat dirinya di tiang masjid selama tujuh hari berturut-turut tanpa mau sedikitpun menelan suapan makanan dan setetes air minum. Abu Lubabah ra sangat malu untuk memohon kepada Rasulullah agar didoakan kepada Allah SWT karena dosanya. Dia bertekad untuk berada terikat di tiang tersebut sampai Allah SWT memberikan keputusan akan dirinya, atau sampai ajal menjemputnya. Namun kasih Allah SWT kepada hamba-Nya yang bertobat sungguhlah luas, dan Abu Lubabah ra diterima tobatnya dalam kondisi yang mengenaskan karena kelaparan. Tangannya yang terikat meninggalkan luka yang baru sembuh setelah setahun lamanya.

Tsa’labah bin Abdul Rahman ra memiliki kisah yang sungguh mulia mengenai pertobatannya yang kemudian menghantarkannya pada ajalnya setelah sebelumnya mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Kisah Tsa’labah jauh lebih unik lagi menurut saya, karena apa yang dinilainya sebagai suatu dosa adalah satu hal yang mungkin saja dianggap remeh oleh masyarakat kita sekarang. Apakah dosa yang membuatnya demikian menyesal? Beliau secara tidak sengaja, ketika sedang melewati sebuah rumah, melihat seorang wanita yang sedang mandi. Itulah yang membuatnya merasa begitu berdosa sehingga harus mengasingkan dirinya di pegunungan dan menderita sakit selama delapan hari.

Ada sebuah kisah dalam kitab Mukhatasharu Kitabit-Tawwabiin yang sangat menarik. Kisah ini diriwayatkan dari Sa’id bin Aiman, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW sedang memberikan ceramah, datang seorang miskin duduk di sebelah seorang kaya. Dengan refleks, orang kaya tersebut sedikit menghindari untuk bersentuhan dengan si miskin. Rasulullah SAW melhat hal tersebut dan kemudian raut mukanya berubah lalu bertanya kepada si kaya itu, “Apakah kamu takut bila kekayaanmu itu berpindah kepadanya, ataukah kamu khawatir bila kemiskinannya menular kepadamu?”

Si kaya kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, begitu buruknyakah kekayaan?” Dan kemudian dijawab oleh Rasulullah SAW, “Benar, kekayaanmu itu akan membawamu ke neraka dan kemiskinannya akan membawanya ke surga.”

Si kaya kembali bertanya, “Lalu apakah yang dapat menyelamatkanku dari hal yang demikian?” Rasulullah menjawabnya, “Kamu harus membantunya dengan hartamu.” Serempak si kaya bersedia melaksanakannya, namun yang mengejutkan saya adalah si miskin justru menolak bantuan dari si kaya tersebut.

Demikianlah perilaku yang mulia dari si kaya dan si miskin. Si kaya karena beliau segera menyadari kesalahannya ketika ditegur oleh Rasulullah SAW, menghindari dirinya dari kesombongan, dan segera berusaha memperbaiki akhlaknya. Si miskin, yang dengan mengejutkan menolak bantuan harta dari si kaya, lebih memilih surga daripada harta dimana sebelumnya Rasulullah mengatakan bahwa kemiskinannya akan membawanya ke surga. Mereka menerima keadaan mereka dan berusaha memperbaikinya. Mereka menyadari kondisi dirinya dan bersyukur kepada Allah SWT, bukan malah menyesalinya.

Adalah kesombongan yang menghalangi manusia dari tobat kepada Allah SWT, dan adalah pengingkaran terhadap kekuasaan Allah SWT yang menyebabkan mereka tidak mau bersyukur kepada Allah SWT. Sebagaimana dituliskan dalam ayat al Quran, “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.” (QS. 16:22)

Saudaraku seiman yang dikasihi oleh Allah SWT, sudahkah kita bersimpuh dalam tangis, membuang segala kesombongan diri dan bertobat kepada Allah SWT? Kepada siapa kita akan berharap dan memohon ampun dari segala kezhaliman yang kita pernah perbuat, kalau bukan kepada Allah SWT? Rengkuhlah tobatmu setiap hari, karena tobat adalah rezeki yang jarang sekali kita sadari. Karena tobat adalah bagian dari nikmat Allah SWT kepada segenap umat manusia. Karena tobat adalah kunci dari pintu hidayah dan petunjuk Allah SWT yang akan menghantarkan kita kepada kenikmatan yang tiada tara dan abadi. Rabbanaa aatina fiddunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa adzaabannaar…

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ..” (QS. 66:8)

Wallahu a’lam bish showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s