Tausiyah

Sebuah Perenungan Akan Rahmat Allah SWT

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan dalam bukunya al-Fawa’id : “Orang yang memiliki keperluan tentu akan berada di ambang pintu raja untuk agar keperluan dan kebutuhannya dipenuhi.”

Pernyataan Ibnu Qayyim diutarakannya sebagai sebuah perumpamaan yang bisa dikatakan terlalu disederhanakan. Perumpamaan ini ditujukan untuk menerangkan kepada pembaca, bagaimana seorang Muslim seharusnya berada pada posisi penuh pengharapan kepada Allah SWT sebagai Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Seorang raja sebagaimana diumpamakan oleh Ibnu Qayyim, adalah seorang manusia yang memiliki kekuasaan tertinggi atas kerajaannya, memiliki kuasa untuk memenuhi hajat dari hambanya tersebut. Oleh karena itu dan karena mengetahui hal tersebut, sang hamba dengan penuh pengharapan tentu akan rela menunggu berhari-hari dan berbulan-bulan demi menemui sang raja dan mengutarakan hajatnya.

Perbandingan yang tidak setara kita lihat jika sang raja tersebut harus dibandingkan dengan Allah SWT. Namun langkah ini diambil oleh Ibnu Qayyim agar dapat dengan mudah memberikan sebuah analogi bagi para pembaca, untuk dapat menyerap maksud dari tulisannya tersebut. Sehingga walaupun dirasakan ketimpangan akan perbandingan tersebut, namun perbandingan tersebut juga akan mengarahkan para pembaca untuk memiliki persepsi persis sebagaimana yang diinginkan oleh sang penulis. Dan dapat dilihat dari pernyataan satu dua baris kalimat saja, Ibnu Qayyim mampu membuat kita terhanyut dalam sebuah perenungan yang mendalam mengenai hakikat Allah SWT dan hakikat kita sebagai manusia dan hamba Allah SWT.

Bahwa sang raja tersebut adalah tetap seorang manusia belaka, dimana sebagai seorang manusia tentu kekuasaan yang dimilikinya sangat terbatas. Si hamba pun juga menyadari hal ini, sehingga tidak mungkin si hamba meminta agar raja untuk menghidupkan kembali ibunya yang telah meniggal, misalnya. Raja tersebut memiliki perasaan, akal, dan juga jiwa yang juga terbatas kapastitasnya. Rasa belas kasih dari sang raja juga memiliki batas, demikian dengan kebijaksanaannya. Pertimbangan-pertimbangan ini akan membuat si hamba juga berpikir mengenai apa yang akan diminta dari sang raja tersebut. Mungkin saja, sang raja akan menolak untuk memnuhi permintaan sang hamba yang sudah berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan menunggu waktu untuk dapat bertemu dengannya. Demikianlah keterbatasan seorang manusia, walaupun dirinya adalah seorang raja yang berkuasa didalam kerajaannya.

Apalah arti dunia beserta segala isinya ini bagi Dzat Yang Maha Mulia, yang telah menciptakannya dan dapat dengan mudah menghancurkannya dan menciptakan kembali dunia beserta isinya?

“Dan Tuhanmu Maha Kaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.” (QS. 6:133)

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti (mu) dengan makhluk yang baru.” (QS. 14:19)

Dalam sebuah hadits : “Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Hamid bin Sulaiman dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’ad dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Seandainya dunia itu di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk tentu Allah tidak mau memberi orang orang kafir walaupun hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi)

Betapa remehnya sebenarnya dunia di sisi Allah SWT, demikian juga dengan isinya termasuk kita manusia. Jika si raja yang kita telah bicarakan tadi melihat si hamba tersebut seremeh dunia di sisi Allah SWT, maka sudah pasti si raja tersebut tidak akan sudi menerima hamba tersebut. Apa urgensinya bagi sang raja untuk menemui hamba yang hina dina macam itu? Namun tidak demikian dengan Allah SWT, terpujilah Allah dengan segala kemuliaan-Nya.

Allah SWT telah memberikan kita rezeki dan nikmat-Nya sebelum kita bahkan memintanya. Dari mulai nikmat yang paling besar, iman dan Islam, hingga ke nikmat yang terkecil dalam hidup kita ini adalah pemberian Allah semata. Tidaklah ada kekuasaan dan kasih sayang yang melebihi dari kekuasaan dan kasih sayang Allah SWT. Kemudian Allah SWT juga yang telah menurunkan kepada kita petunjuk (Al Quran) melalui perantaraan nabi-Nya, Muhammad SAW, dimana petunjuk ini adalah kunci dari pintu-pintu surga. Tidak akan terbuka pintu-pintu surga untuk kita tanpa kita terlebih dahulu mengikuti petunjuk-Nya. Sungguh besar rahmat Allah bagi seluruh alam semesta. Dan apakah kenikmatan yang terbesar selain daripada surga Allah? Dan apakah yang dapat seorang hamba harapkan dari Tuhannya kecuali belas kasih-Nya dan rahmat-Nya?

Belas kasih Allah SWT berupa ampunan adalah bagian dari rahmat-Nya yang Maha Luas dan Maha Besar. Tidak ada dosa yang tidak akan diampuni-Nya jika hamba-Nya bertobat dengan sebenar-benarnya taubat, dan menghindari dari menyekutukan Allah SWT. Ustadz Fathuddin Ja’far menyatakan dalam kajian Tazkiyatun Nufus, adalah sebuah kehinaan bagi seseorang untuk mengakui ketundukan dirinya, penyesalan dirinya, permohonan maaf dirinya di hadapan seorang manusia lainnya; namun adalah sebuah kemuliaan bagi seorang manusia yang menyatakan ketundukan dirinya, penyesalan dirinya, dan permohonan tobatnya di hadapan Allah SWT. Karena hal-hal inilah yang akan menghantarkannya kepada kecintaan kepada Allah SWT dan surga-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, ..” (QS. 66:8)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Al Mughirah Al Hizami dari Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Ketika Allah menciptakan makhluk, maka Dia membuat ketentuan terhadap diri-Nya sendiri di dalam kitab-Nya yang berada di atas Arsy. Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mendominasi murka-Ku.” (Shahih Muslim)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dia berkata; aku mendengar Abu ‘Ubaidah bercerita dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ” Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat.” (Shahih Muslim)

Ikhwah fillah, sebagaimana yang telah disiratkan oleh Ibnu Qayyim dalam perumpamaan raja dan hamba diatas, senantiasalah menanti di depan pintu-pintu surga, ketuklah pintunya dengan hati yang tulus dan penuh kecintaan kepada Allah SWT, penuhilah air mata dengan pengharapan akan ampunan-Nya, rahmat-Nya, dan belas kasih-Nya. Sungguh rahmat Allah SWT ada di depan mata kita, dan ampunan-Nya ada untuk kita raih dan rengkuh dalam dada. Dan sungguh surga-Nya adalah nyata untuk kita nikmati dan siksa-Nya adalah seburuk-buruknya tempat untuk kembali.

Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s