Kehidupan

Khutbah Jahiliyah

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. (QS. 6:74)

Hujan gerimis di siang hari ini. Alhamdulillah, terpujilah Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya kepada seluruh penjuru bumi ini sehingga kita dapat menikmati sejuknya semilir angin di siang hari ini. Rahmat Allah yang diturunkan kepada kita telah membuat segala isi bumi ini tunduk kepada manusia dan bagaimana kita akan mengolahnya untuk kemashlatan umat dan agama.

Sebuah insiden yang sangat mengejutkan saya terjadi di siang hari pada Jum’at yang lalu. Sebagaimana semestinya saya mendatangi sebuah masjid tempat saya biasa melaksanakan shalat Juma’t. Kebetulan saya mendapati diri saya berada pada barisan shaf pertama, dan sebelum khutbah dimulai barisan di belakang saya mulai terlihat penuh. Sang khotib menaiki mimbar dan iqamat pun dikumandangkan.

Sang khotib memulai khutbahnya dengan mengucap syukur dan memanjatkan doa, lalu beliau memulai dengan mengingatkan para jamaah bahwa hari itu adalah hari Kesaktian Pancasila. Lalu baru setelah itu sang khotib berkoar-koar mengenai Pancasila yang telah menjadi dasar negara ini dan meninggi-ninggikan derajat Pancasila. Beliau memaparkan bahwa sila-sila dalam Pancasila telah sukses menjaga kelangsungan bangsa ini dan bahwa keputusan para pendiri bangsa ini sangat tepat dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar pemersatu bangsa ini.

“Naudzubillah.. Ustadz yang tidak pernah membaca ayat disuruh berkhutbah,” umpat saya dalam hati.

Lalu kemudian beliau memberikan evaluasinya mengenai pelaksanaan Pancasila pada orde reformasi ini yang seakan mengalami kemunduran. Beliau mengutip salah satu sila “Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dan kemudian menyatakan bahwa tidak seluruh rakyat merasa diperlakukan dengan adil. Beliau menyatakan kalau Islam menyuruh kita untuk berlaku adil. Dan dilanjutkan kembali dengan sila “Persatuan Indonesia” yang menurutnya juga mengalami kemunduran padahal Islam meminta umatnya untuk menjalin ukhuwah Islamiyah.

“Ya Allah.. makar macam apa yang sedang ditanamkan oleh ustadz ini kepada jamaah-Mu di masjid-Mu yang mulia ini?” tanyaku sambil mengusap air mata yang sedikit menetes.

Islam dijadikan sebagai alat untuk memenuhi sila-sila Pancasila. Dan lebih parahnya lagi, si khotib bahlul ini seakan-akan menyalahkan umat Islam. Karena umat Islam lalai beribadah maka Pancasila mengalami kemunduran. Innalillahi wa innalillahi ro’jiun. Seandainya saya masih berada di pagar masjid dan mendengar khutbahnya seperti ini, saya akan segera melangkah untuk mencari masjid lain untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Kenyataan diatas menunjukkan bahwa bangsa ini telah semakin terpuruk aqidahnya dan semakin melupakan apa yang didakwahkan oleh para nabi kepada kita dan apa yang telah diwariskan oleh para salafus shalihin kepada kita melalui para ulama. Dan juga betapa jahilnya masyarakat kita sekarang ini. Kutipan ayat pada awal tulisan ini ditujukan untuk seluruh umat Islam di dalam al Quran. Kalam Allah yang ditujukan kepada kita semua, agar kita tidak lupa kalau seorang nabi bernama Ibrahim as pernah mengingatkan kaumnya, orang tuanya, akan penyembahan mereka terhadap ciptaan-ciptaan mereka sendiri, seperti patung berhala, burung garuda, selembar kain di tiang bendera, dan lain sebagainya.

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.” (QS. 7:191)

“Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (QS. 16:20)

Sungguh sedih kalau kita berhadapan dengan kenyataan bahwa ke-jahiliyah-an masyarakat kita sudah sedemikian memprihatinkan sampai-sampai di dalam masjid seorang khotib Jum’at bisa mendakwahkan Pancasila kepada jamaah shalat Jum’at. Dan semakin sulit jalan dakwah harus ditempuh, kawan. Semoga Allah SWT melindungi dakwah ini dan tetap merahmati kita dengan iman, tauhid dan Islam. Laa haula walaa quwwata illa billah.. Hanya kepada-Mu segala sesuatu akan kembali dan semoga aku tergolong sebagai orang yang berserah diri, ya Allah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s