Pemikiran

Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan Saya

Dalam sebuah diskusi yang cukup menarik dengan salah seorang kenalan di situs jejaring sosial, dia mengatakan kalau Pancasila adalah sebuah ideologi negara yang tidak dapat diubah dan sudah mengakomodir segala keperluan ummat beragama yang ada di Indonesia, termasuk Islam. Pernyataannya ini menarik perhatian saya. Kenapa? Karena pernyataan ini menimbulkan pertentangan dalam hati saya sebagai seorang Muslim yang mempercayai bahwa Islam adalah ideologi yang hak dan layak untuk digunakan oleh negara yang berpendudukan mayoritas ummat Islam, seperti Indonesia.

Saya tidak ingin mengangkat isu yang melatarbelakangi mengapa Pancasila digunakan, untuk saya itu adalah isu masa lalu yang tidak perlu dijadikan sebuah permasalahan. Besar kemungkinan para pendiri bangsa ini menilai ikatan persatuan akan lebih kokoh jika tidak dilandaskan pada ikatan aqidah, dan akhirnya sila pertama Pancasila berbunyi sebagaimana yang kita miliki sekarang. Atau atas alasan apapun itu, kenyataannya adalah Pancasila adalah sebuah ideologi yang mengakui bahwa Tuhan adalah yang Maha Esa. Pancasila menolak pemahaman agama yang mengakui adanya lebih dari satu tuhan.

Sila pertama dalam Pancasila menurut saya adalah sebuah kelemahan utama dari ideologi ini. Pancasila sebagai sebuah ideologi gagal memberikan kepastian kepada sumber hukum yang bernaung dibawahnya, mengenai aqidah dan syariat yang akan dijadikan parameter untuk menentukan sebuah sikap, atau mengambil keputusan. Pancasila dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan adalah Maha Esa, dan semua ummat beragama di Indonesia memang sepakat bahwa Tuhan adalah Maha Esa. Islam mengakui Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa dan tidak ada yang dapat menyamakan-Nya. Demikian juga Kristen Protestan dan Katholik menyatakan kalau Tuhan Bapa adalah satu kesatuan dengan Yesus Kristus dan Roh Kudus, sebagai satu kesatuan yang esa dalam ikatan trinitas. Hindu dan Buddha juga mengakui bahwa tuhan mereka adalah hanya satu.

Nah, pertanyaan yang saya ajukan adalah tuhan yang mana yang dianut oleh Pancasila? Mengapa hal ini perlu dipertanyakan? Karena hal ini akan menentukan kecenderungan sikap, parameter, standar dan tetek bengek lainnya yang akan digunakan dalam menentukan kebijakan Negara terhadap segala hal yang akan dihadapinya. Apakah Tuhan Bapa – Yesus Kristus – Roh Kudus? Ataukah Allah SWT? Ataukah Sidartha Gautama?

Kalau pertanyaan tadi dinilai tidak tepat karena Pancasila adalah sebuah ideologi dan agama yang dinaungkan dibawahnya adalah juga ideologi, maka pertanyaan saya akan juga berubah menjadi apakah Pancasila adalah agama dari NKRI ini? Kenapa saya bertanya seperti ini? Karena tidak ada tuhan dari keenam agama yang ada di Indonesia yang diakui sebagai tuhan oleh Pancasila, yang artinya Pancasila memiliki tuhannya sendiri yang berbeda dari keenam agama yang ada. Dan semua agama bernaung dibawahnya.

Pemikiran ini saya dasarkan pada “Bedah Butir Pada Pancasila – Sila Pertama”, dimana di antara butir-butirnya adalah :

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Artinya masyarakat Indonesia diwajibkan menerima ketaqwaan kepada tuhan yang sama sekali tidak dikenal oleh keenam agama yang diakui, dengan nama “Tuhan yang Maha Esa.” Untuk selanjutnya akan saya singkat menjadi TYME.  Baru pada butir kedua dijelaskan mengenai “agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.” Apa pengertian “adil” disini dan apa parameter seorang manusia dinyatakan “beradab”? Sebuah pemahaman yang sangat rancu dan sungguh tidak ada landasan yang jelas untuk menjelaskan pengertian “agama yang menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.”

Apa yang saya sajikan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan yang mendasari ketidaksepakatan saya dengan ideologi yang bernama Pancasila berdasarkan pemikiran saya. Tentu hal ini saya ungkapkan dalam diskusi dengan seorang nasionalis atau pancasilais. Kesimpulan saya adalah Pancasila adalah sebuah paham agnostik yang mengakui adanya tuhan yang maha esa namun tidak memiliki syariat tertentu untuk dijalankannya, dan agama yang dinaungkan dibawahnya wajib mengakuinya sebagai ideologi Negara.

Sebagai seorang Muslim, penolakan saya terhadap Pancasila adalah ketika Islam harus bernaung dibawah sebuah ideologi lain yang dibuat oleh manusia. Bagaimana mungkin ideologi, ajaran hidup, hukum dan ajaran yang diturunkan oleh Dzat yang menciptakan manusia, alam semesta dan segala isinya harus bernaung dibawah sebuah ideologi yang dibuat oleh sekelompok mahluk ciptaan-Nya? Akal sehat saya tidak dapat menerima hal ini. Jika Pancasila hendak bernaung dibawah Islam, tentu Islam akan dapat menaunginya. Tapi jika Islam dipaksakan untuk bernaung dibawah Pancasila, maka saya lebih takut kepada azab Allah yang atas dosa menentang kehendak-Nya.

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.  Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”. (QS.10:15)

Ayat diatas menunjukkan penolakkan oleh sekelompok kaum ketika dibacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, yang kemudian mereka menolaknya dan meminta kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengubah bunyi ayat-ayat tersebut agar sesuai dengan hawa nafsu mereka. Dan ini sangat mirip dengan fenomena Pancasila dengan sila pertamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s