Tito Julio, 22yo, 14th Feb 2016

22 years, we have been together, for the worst and hoping for the better. Love might not shown as expected, or as we wanted, but love is definitely there to be hold and respected.

We are brothers and sister. We’ve faced all kind of laughters. Emotions, from anger to a simple sweet smile, we have given to each other. How I am proud to call you my brother. Your strenght, your will, your bravery to face the pain and the ill. Untill the end, I can only stood still, remembering all the memories, all that we feel.

Say hi for mama, let her know we are fine. We have took care her little kid with all the might we can find. Might not be the best care and not the most fair, but we prove it, in the end we are all there.

View on Path

Tito Julio, 22yo, 14th Feb 2016

Homosexual Marriages?

Salah satu topik yang paling hangat saat ini adalah legalisasi pernikahan sesama jenis yang disahkan di Amerika Serikat baru-baru ini. Reaksi dari berbagai belahan dunia, di berbagai media sosial, sangat beragam. Mereka yang berpikiran liberal seakan bersorak sorai, seolah-olah legalisasi ini adalah kemenangan hak asasi manusia, kesetaraan dan humanisme di atas manusia. Benarkah demikian? Lanjutkan membaca “Homosexual Marriages?”

Homosexual Marriages?

Sedikit Tentang Ikhlas dan Amal

Sebuah peribahasa Melayu yang cukup sering kita dengar tiba-tiba melekat di pikiran saya. “Gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya, manusia mati meninggalkan namanya,” demikian bunyi peribahasa tersebut. Kita semua tentu paham apa yang dimaksudkan dengan peribahasa tersebut.

Manusia mati meninggalkan nama. Hanya sebuah nama di atas nisan. Kira-kira apa arti sebuah nama di atas sebuah nisan tersebut?

Lanjutkan membaca “Sedikit Tentang Ikhlas dan Amal”

Sedikit Tentang Ikhlas dan Amal

Sedikit Bertanya

Indahnya ukhuwah, baik dalam lingkup manapun, ditunjukkan dengan kebersamaan dalam pengorbanan yang diberikan oleh semua yang ada didalamnya. Ada kebersamaan dan ada pengorbanan. Keduanya beriringan dan berjalan bersama. Baik dalam keluarga antara suami, istri dan anak-anak, maupun dalam lingkup komunitaa yang memiliki tujuan yang jelas. Atau bahkan dalam lingkup yang jauh lebih luas, yakni dunia internasional.

Walaupun bersama, namun tanpa pengorbanan maka tidak akan ada ukhuwah. Tak akan ada ikatan yang menyatukan jiwa dan raga kepada tujuan bersama. Sehingga kebersamaan itu hanya akan berasa hambar, kaku, dan sekedar formalitas saja. Lanjutkan membaca “Sedikit Bertanya”

Sedikit Bertanya

Harapan Itu Selalu Ada

Sesungguhnya harapan itu akan selalu ada, tidak pernah surut dan tidak pernah hilang. Masalahnya adalah dimana letak harapan itu ditempatkan.

“Ibrahim berkata, ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang tersesat.'” QS. Ibrahim [15]:56

Harapan yang ditempatkan kepada Allah, adalah harapan yang tidak pernah habis, terbuka untuk segala kebaikan dan pasti akan berbalas. Ia bukan harapan yang semu dan memudar.

Tentu dengan menempatkan harapan kepada Allah maka kita juga menjalankan syari’at-Nya, beribadah sesuai dengan yang Allah hendaki dan ridhoi. Tidak mungkin kita menempatkan harapan kepada Allah dengan menyimpang dari jalan kebenaran, menyelisihi syari’at-Nya atau menjauhi ibadah kepada-Nya semata.

Mungkinkah kita menempatkan harapan kepada Allah dengan menghalalkan risywah, berdangdut ria, atau menqiyaskan GBK dengan Masjidil Haram? Allahulmusta’an.

Harapan Itu Selalu Ada

Soal Dakwah

Apa kepentingan seorang da’i terhadap nama atau bendera kelompok? Padahal nama atau bendera tersebut tidak ditanya kelak di akhirat. Tidak juga nama atau bendera tersebut menambah pahala atau mengurangi dosanya.

Jika gerakan kita terkooptasi dalam sekat yang kita buat sendiri, maka jangan heran jika benturan semakin sering kita hadapi. Bukannya solusi, malah masalah. Bukannya jawaban, malah pertanyaan. Bukannya sampai tujuan, tapi tersesat dalam wacana. Lanjutkan membaca “Soal Dakwah”

Soal Dakwah