<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>At-Tajarrud</title>
	<atom:link href="http://tajarrud.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tajarrud.wordpress.com</link>
	<description>Allah Tujuan Kami, RasuluLlah Tauladan Kami, Al-Qur&#039;an Pedoman Hidup Kami, Jihad Jalan Juang Kami, Mati Syahid adalah Cita Tertinggi Kami</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Feb 2012 17:18:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tajarrud.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>At-Tajarrud</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tajarrud.wordpress.com/osd.xml" title="At-Tajarrud" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tajarrud.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Syukur Kepada Allah Ta&#8217;ala</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2012/02/14/syukur-kepada-allah-taala/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2012/02/14/syukur-kepada-allah-taala/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 09:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menyusun kaidah yang lugas namun lengkap mengenai syukur. Beliau menuliskan bahwa syukur terdiri dari tiga syarat utama. Tanpa ketiga syarat ini belum lengkaplah syukur itu dan belum dapat dikatakan bahwa seseorang itu bersyukur kepada Allah ta&#8217;ala. Dan ini perlu kita, agar kita senantiasa bersyukur kepada-Nya. Pertama adalah merasakan dan membenarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=422&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menyusun kaidah yang lugas namun lengkap mengenai syukur. Beliau menuliskan bahwa syukur terdiri dari tiga syarat utama. Tanpa ketiga syarat ini belum lengkaplah syukur itu dan belum dapat dikatakan bahwa seseorang itu bersyukur kepada Allah ta&#8217;ala. Dan ini perlu kita, agar kita senantiasa bersyukur kepada-Nya.</p>
<p>Pertama adalah merasakan dan membenarkan nikmat Allah di dalam hatinya. Kedua, mengucapkannya secara lisan bahwa ia bersyukur. Lalu menggunakan nikmat tersebut sebagai sarana untuk meningkatkan iman dan taqwa dirinya kepada Allah ta&#8217;ala.</p>
<p><span id="more-422"></span></p>
<p>Sebagaimana kita ketahui, syukur adalah salah satu perintah yang disematkan kepada orang yang beriman. Artinya tanpa syukur, belum sempurnalah keimanan kita. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah ta&#8217;ala, &#8220;Hai orang-orang yang beriman, makanlah rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kita menyembah.&#8221; QS. Al Baqarah [2]:172</p>
<p>Perintah tersebut lugas dan tidak membutuhkan penafsiran yang panjang lebar, namun membutuhkan iman, pemahaman dan niat yang tulus agar kita senantiasa dapat mengamalkannya. Ayat yang dimulai dengan seruan kepada orang beriman, memberikan kita sebuah isyarat bahwa apa yang hendak disampaikan dalam ayat itu menjadi sangat spesifik dan konsekuensi melalaikannya sungguhlah berat.</p>
<p>Ikhwah fillah rahimahumullah,</p>
<p>Syukur pertama kali dirasakan di dalam hati sebagai bentuk kesadaran kita akan kebesaran Allah ta&#8217;ala dan rahmat-Nya yang Maha Luas atas seluruh hamba-Nya. Tanpa mengetahui hal ini, jelas ada kemunafikan dalam diri kita dan ini berbahaya bagi aqidah kita. Jika hal demikian dibiarkan berlanjut, bisa jadi kerak neraka adalah nasib abadi atas diri kita, na&#8217;udzubillah.</p>
<p>&#8220;Mengapa Allah aka  menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Allah adalah Maha Mensyukuri dan Maha Mengetahui.&#8221; QS. An Nisa&#8217; [4]:147</p>
<p>Tanpa syukur dan iman, yang ada hanyalah siksa dalam kekekalan jahannam. Kedua hal ini wajib atas diri yang menginginkan keselamatan bersama orang yang shalih dan bertaqwa.</p>
<p>Hal ini dapat kita pelajari dari sikap Nabi Sulaiman as yang diberikan anugerah yang luar biasa oleh Allah ta&#8217;ala, salah satunya adalah kemampuan beliau untuk memahami bahasa hewan. Ketika Sulaiman as mendengar ucapan semut yang takut terinjak oleh pasukan yang hendak lewat, beliau tidaklah ujub dan memanjatkan doa syukur kepada Allah ta&#8217;ala. &#8220;Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku ..&#8221; QS. An Naml [27]:19</p>
<p>Syukur juga harus kita ucapkan dengan lisan. Allah ta&#8217;ala mengajarkan kepada kita soal ini dalam banyak firman-Nya yang agung. Bagaimana malaikat memuji dan senantiasa bertasbih kepada Allah ta&#8217;ala. Lalu bagaimana gunung, gemuruh dan hewan pun bertasbih dan memuliakan nama Allah sebagai bentuk syukur mereka.</p>
<p>Perhatikan penggalan doa Khalilullah Ibrahim as berikut ini, &#8220;Segala puji milik Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua, Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar mengabulkan doa.&#8221; QS. Ibrahim [14]:39</p>
<p>Demikian juga perintah Allah ta&#8217;ala kepada Nabiyullah Nuh as dan pengikutnya, &#8220;Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu sudah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: &#8216;Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang lalim&#8217;.&#8221; QS. Al Mu&#8217;minun [23]:28</p>
<p>Mengucapkan syukur dan pujian kepada Allah ta&#8217;ala adalah bagian integral yang tidak terlepas dari pengakuan atas nikmat Allah atas diri kita. Tanpa diucapkan maka ia hanya akan menjadi biji yang tidak dapat tumbuh di atas tanah yang subur. Tidaklah ia sempurna dan utuh.</p>
<p>&#8220;Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).&#8221; QS. Adh Dhuha [93]:11</p>
<p>Yang terakhir adalah menjadikan nikmat Allah ta&#8217;ala sebagai sarana untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada-Nya. Mengapa? Karena nikmat tersebut tidaklah Allah berikan sebagai bukti akan kebesaran-Nya dan dengan demikian kita menjadi bersyukur kepada-Nya dengan senantiasa bertaqwa. Nikmat adalah ujian yang Allah berikan kepada kita, dimana kita wajib bersabar atas nikmat tersebut dengan tidak serakah dan lalai dalam mensyukuri kebesaran Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Betapa banyak manusia yang justru lalai ketika nikmat mendatangi mereka. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw menjelaskan ketakutan beliau atas umatnya adalah bukan ketika mereka diuji dengan fitnah cobaan kemiskinan dan siksaan. Namun Rasulullah saw mengkhawatirkan keadaan umat beliau justru ketika Allah ta&#8217;ala membukakan pintu-pintu dunia kepada kita. Jika seorang Rasul yang zuhud dan jujur ini menunjukkan kekhawatiran beliau atas terbukanya pintu dunia, apakah tidak layak jika kita menjadi jauh lebih khawatir? Ataukah malah kita menantang agar Allah bukakan pintu dunia di hadapan kita? Right!</p>
<p>&#8220;Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan ternak, bahkan mereka lebih hina lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.&#8221; QS. Al A&#8217;raf [7]:179</p>
<p>Mengenai ayat ini, Sayyid Quthb menjelaskan dalam kitab Fii Dzilali Qur&#8217;an sebagai berikut:</p>
<p><em>Mereka tidak membuka hati yang diberikan kepada mereka untuk memahami, sedangkan dalil-dalil iman dan petunjuk ada di dalam wujud dan risalah-risalah yang bisa dipahami oleh hati yang terbuka dan penglihatan yang terbuka. Mereka tidak membuka mata untuk melihat ayat-ayat kauniyyah Allah. Tidak membuka telinga mereka untuk.mendengarkan ayat-ayat Allah yang dibacakan..Mereka tidak memfungsikan instrumen-instrumen yang diberikan kepada mereka dan tidak mendayagunakannya. Mereka hidup dalam keadaan lalai dan tidak mau merenung.</em><br />
<em>Orang-orang yang melupakan ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta dan kehidupan sekitar mereka, orang-orang yang melupakan berbagai peristiwa dan perubahan yang mereka lalui sehingga tidak melihat tangan Allah didalamnya..Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi..Karena binatang ternak memiliki poteni fitrah yang menuntunnya..Sedangkan jin dan manusia dibekali hati yang mampu berpikir, mata yang bisa melihat dan telinga yang bisa menangkap suara. Apabila mereka tidak membuka hati, penglihatan dan pendengaran mereka supaya mereka menjadi tahu … maka mereka lebih sesat daripada binatamg ternak yang cuma dibekali dengan potensi fitrah..Kemudian mereka menjadi isi neraka Jahannam!</em></p>
<p>Dalam ayat lain, Allah ta&#8217;ala berfirman, &#8220;Katakanlah, &#8216;Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.&#8217; (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.&#8221; QS. Al Mulk [67]:23</p>
<p>Jika apa yang telah Allah berikan kepada kita tidak dapat kita jadikan modal untuk menguatkan iman dan taqwa kepada Allah ta&#8217;ala, maka ketahuilah bahwa kita tergolong orang yang hidup dalam kelalaian. Bahwa kita berada jauh dari syukur. Bahwa kita lebih hina daripada binatang ternak sekalipun. Dan tempat akhir kita adalah neraka Jahannam. Na&#8217;udzubillah.</p>
<p>Semoga kita senantiasa bersyukur kepada Allah ta&#8217;ala. Wallahu a&#8217;lam bishshowab.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/tausiyah/'>Tausiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/422/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=422&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2012/02/14/syukur-kepada-allah-taala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat Saya Soal Pemukiman Islami</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2012/02/02/pendapat-saya-soal-pemukiman-islami/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2012/02/02/pendapat-saya-soal-pemukiman-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 16:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum, Dalam beberapa diskusi belakangan ini, saya menemukan sebuah topik yang menggelitik saya untuk menuliskan tanggapan secara pribadi. Saya akui bahwa saya adalah hamba yang dha&#8217;if sehingga saya tidak menyematkan tulisan saya ini sebagai kebenaran yang datang dari Islam dan tulisan ini pun bukan kritik terhadap mereka yang memiliki pendirian yang berseberangan dengan saya. Sekali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=419&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum,</p>
<p>Dalam beberapa diskusi belakangan ini, saya menemukan sebuah topik yang menggelitik saya untuk menuliskan tanggapan secara pribadi. Saya akui bahwa saya adalah hamba yang dha&#8217;if sehingga saya tidak menyematkan tulisan saya ini sebagai kebenaran yang datang dari Islam dan tulisan ini pun bukan kritik terhadap mereka yang memiliki pendirian yang berseberangan dengan saya. Sekali lagi ini adalah pendapat pribadi saya. Semoga Allah ta&#8217;ala merahmati kita semua.</p>
<p>Semua berawal dari sebuah diskusi dengan beberapa ikhwah yang mengabarkan mengenai keberadaan pemukiman Islami di beberapa daerah, yang dikatakan menjalankan kehidupan sebagaimana diajarkan oleh Islam. Menjauhkan diri dari hiruk pikuk kemusyrikan dan kekufuran di tengah masyarakat kita, menjadi motivasi utama bagi mereka yang semangat untuk berangkat &#8220;hijrah&#8221; ke pemukiman Islami ini.</p>
<p><span id="more-419"></span></p>
<p>Terus terang, saya tidak mengetahui bagaimana keadaan disana sehingga pemukiman ini dikatakan sebagai pemukiman Islami. Namun, gambaran akan menjauhkan diri dari masyarakat yang terjerat syubhat dan jahil yang kemudian mendekatkan masyarakat ini kepada kemusyrikan dan kekufuran, menjadi pokok perhatian saya.</p>
<p>Beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan saya adalah:<br />
1. Jika tempat ini dikatakan sebuah pemukiman Islami, maka ia harus memiliki pemerintahan sendiri yang menjalankan syariat Islam, seperti qishosh dan hukum rajam.<br />
2. Selama tempat ini bernaung dibawah kekuasaan pemerintahan thoghut, maka ia tidak menjadi lbh baik drpd tempat tinggal saya skrg ini.<br />
3. Manfaat dan mudharat dari &#8220;hijrah&#8221; ke pemukiman ini, baik scr individu atau umat.<br />
4. Urgensi uzlah.</p>
<p>Untuk poin pertama dan kedua, saya tidak memiliki kesulitan untuk menjawabnya. Saya yakin bahwa hukum Islam tidak dapat diterapkan secara utuh dimanapun dalam kekuasaan pemerintahan thoghut. Jika sampai terjadi qishosh disana, saya ragu aparat kepolisian akan diam saja. Sehingga untuk dua poin itu saya memiliki pendirian yang jelas.</p>
<p>Untuk poin ketiga, saya perlu melakukan penelaahan ulang. Seorang ulama salaf mengingatkan bahwa sebelum melakukan sesuatu, seorang mu&#8217;min akan melihat niatnya. Jika karena hal selain Allah, maka akan ia urungkan. Lalu jika karena Allah, ia akan pertimbangkan kesanggupan melaksanakan sesuatu itu. Maka saya renungkan apakah karena Allah sehingga diperlukan mengambil langkah &#8220;hijrah&#8221; kesana?</p>
<p>Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan dalam kitab Al Fawa&#8217;id perihal iman sebagai berikut : &#8220;Rangkuman dari pengetahuan mengenai apa yang dibawa oleh Rasulullah saw berupa ilmu, membenarkannya yang bersifat aqidah, lalu mengucapkannya dengan perkataan, lalu tunduk kepadanya yang bersifat kecintaan dan kepasrahan, lalu mengamalkannya yang bersifat dzahir maupun batin dan mendakwahkan sesuai dengan kesanggupan.&#8221; Lanjut lagi, Ibnu Qayyim menambahkan bahwa kesempurnaan iman ditunjukkan dengan empat hal, yaitu kecintaan karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan karena Allah.</p>
<p>Dari pemaparan perihal iman diatas ada dua hal yang saya garisbawahi soal &#8220;hijrah&#8221; ke pemukiman Islami ini. Pertama, apa amal yang dapat saya lakukan di tnfah masyarakat yang terbatas, homogen dan memiliki keinginan untuk menjauh dari dunia. Hal ini mengganggu saya karena jelas tanpa amal, iman tidak sempurna dan utuh. Sayyid Quthb dalam kita Fii Dzilalil Qur&#8217;an mengatakan bahwa iman tanpa amal hanya ada dalam hati yang sakit.</p>
<p>Kedua, siapa yang akan saya dakwahkan jika masyarakatnya homogen dan memiliki keinginan yang sama yaitu menjauh dari dunia? Sekali lagi, dakwah adalah konsekuensi dari iman sebagaimana sudah dijelaskan oleh Ibnu Qayyim diatas sehingga tanpa dakwah, iman tidak sempurna. Bayangkan jika seluruh kaum Muslimin yang memiliki fikroh yang hanif pergi ke tempat ini, siapa yang berdakwah pada masyarakat?</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan kewajiban setiap Muslim dalam kitab Al Ushul Ats Tsalatsah, adalah pertama mencari ilmu, beramal, berdakwah dan bersabar. Dalilnya adalah surah Al Ashr. Orang yang dikatakan merugi adalah orang yang kehilangan kesempatan untuk beramal dan berdakwah lalu bersabar di tengah masyarakat yang ia dakwahi. Apalagi ia memiliki ilmu yang dapat ia amalkan, dakwahkan lalu ia bersabar di atas ilmu itu. Inilah Islam yang saya pelajari, pahami dan berusaha untuk saya amalkan sekuat jiwa.</p>
<p>Maka kesimpulan dari poin ketiga, langkah untuk &#8220;hijrah&#8221; ke tempat yang jauh dari syubhat, kekufuran dan kemusyrikan bertentangan dengan pemahaman saya akan iman dan Islam. Manhaj dakwah Rasulullah saw tidak ditujukan kepada mereka yang sudah beriman, tapi kepada kafir Quraisy yang menyembah berhala. Demikian juga Ibrahim as yang berdakwah kepada kaumnya yang menyembah berhala, benda langit dsb, bukan kepada mereka yang sudah beriman. Tarbiyah yang dilakukan oleh para nabi ditujukan agar para sahabatnya dapat menyebarkan Islam ke wilayah yang masih kufur dan musyrik. Artinya, di tengah kekufuran dan kemusyrikan-lah seorang Mu&#8217;min diwajibkan untk berjibaku untuk menyerukan kepada masyarakatnya agar mereka kafir terhadap thoghut, beriman kepada Allah, keluar dari gelapnya jahiliyah menuju cahaya Islam, sehingga mereka ingkari thoghut itu dan beribadah hanya kepada Allah. Manfaat kaum Mu&#8217;minin berada di tengah syubhat, kekufuran dan kemusyrikan jauh lebih besar. Betapa mulianya amanah ini yang diembankan kepada hambaNya yang beriman. Dan imbalan yang dijanjikan Allah bukanlah perkampungan Islami, melainkan Al Jannah. Kekekalan dalam surgaNya yang abadi. ALLAHU AKBAR!</p>
<p>Lalu pada poin ke empat, saya semakin melihat tidak ada urgensi untuk melakukan uzlah. Rasulullah saw melakukan uzlah/pengasingan diri ketika beliau belum diangkat menjadi rasul. Namun sejak turun ayat seruan kepada beliau yang sedang berselimut, tidak ada lagi uzlah dalam sunnahnya.</p>
<p>Demikian pendapat pribadi saya yang tidak diminta perihal pemukiman Islami ini. Wallahu a&#8217;lam bishshowab.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/pemikiran/'>Pemikiran</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/419/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=419&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2012/02/02/pendapat-saya-soal-pemukiman-islami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Bagi Saya</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2012/01/30/pelajaran-bagi-saya/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2012/01/30/pelajaran-bagi-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 12:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Twit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa pekan terakhir saya menghabiskan setiap hari Ahad bersama kelompok komunitas muallaf Lentera Mahadaya. Betapa maha lembutnya pengaturan Allah sehingga saya bertemu dengan kelompok komunitas ini. Mereka berisikan muallaf dan juga Muslim yang ingin mendalami kembali Islam. Semangat menyala, keinginan dan tekad pun membulat menjadi amal nyata. Dan Allah ta&#8217;ala memberikan banyak kemudahan bagi saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=417&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa pekan terakhir saya menghabiskan setiap hari Ahad bersama kelompok komunitas muallaf Lentera Mahadaya. Betapa maha lembutnya pengaturan Allah sehingga saya bertemu dengan kelompok komunitas ini. Mereka berisikan muallaf dan juga Muslim yang ingin mendalami kembali Islam.</p>
<p>Semangat menyala, keinginan dan tekad pun membulat menjadi amal nyata. Dan Allah ta&#8217;ala memberikan banyak kemudahan bagi saya dalam menjalani tiap-tiap pertemuan. Semoga Allah menjaga keikhlasan dalam hati kami agar tiap menit yang kami luangkan menuai pahala disisiNya.</p>
<p><span id="more-417"></span></p>
<p>Dari beberapa pekan yang saya lewati bersama mereka, ada sebuah kesan mendalam bagi diri saya. Bagaimana Islam menyentuh diri dengan cara yang sangat halus. Lalu bagaimana Islam menyentuh hati manusia melalui kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Salah seorang muallaf berasal dari Jepang yang kemudian ingin menikahi seorang muslimah Indonesia. Ia masuk Islam atas syarat pernikahan itu. Subhanallah. Tidak ada yang tercela dalam hal tersebut namun ada kemuliaan dalam pernikahan seperti itu. Datanglah mereka berdua ke kajian kami semampu mereka untuk mengenal Islam, walaupun ada halangan bahasa yang cukup menyulitkan namun sang istri mampu menerjemahkan ke dalam bahasa Jepang setiap kata yang saya sampaikan.</p>
<p>Lalu seorang lagi wanita yang ingin menikahi seorang muallaf dari Belanda. Ia Muslimah sejak lahir, namun kini ia menemukan motivasi yang mulia untuk semakin mendalami Islam. Betapa cinta bisa menjadi alasan seseorang mengenal Allah dan berdasarkan apa yang ia sampaikan sendiri, ia menjadi lebih mencintai Allah.</p>
<p>Lalu sepasang suami istri yang turut mengawali pembentukkan kelompok ini. Keistiqomahan mereka dan keteguhan mereka mengumpulkan para muallaf merupakan inspirasi bagi saya. Walaupun saya harus meredam semangat membara mereka agar dapat mempelajari Islam secara lebih perloahan dan sabar, namun saya mengagumi upaya mereka dan semangat mereka.</p>
<p>Lalu seorang wanita Nasrani yang juga hadir di setiap pertemuan kami. Ia mempelajari Islam untuk mempersiapkan pernikahannya dengan seorang Muslim. Jujur, saya melihatnya mengalami kesulitan untuk meyakini Islam. Namun saya tidak bisa memungkiri bahwa semangatnya untuk mengenal dan memahami Islam menjadikannya bintang dalam tiap pertemuan bagi diri saya. Indahnya Islam memang hanya akan terasa jika sudah dijalankan sehingga saya memahami bagaimana sulitnya ia mencoba memahami.</p>
<p>Lalu, yang terakhir adalah seorang wanita yang menjadi faktor pemersatu kajian ini dimana beliau sudah mencurahkan upaya dan tenaga, modal dan waktu, demi menyediakan ilmu bagi para muallaf dan peserta kajian ini. Saya berharap, Allah ta&#8217;ala akan memberikan keridhoanNya atas upayanya ini. Insya Allah.</p>
<p>Kesemuanya memberikan nuansa baru bagi kehidupan saya dimana pengaturan Allah yang maha lembut telah mempertemukan saya dengan mereka. Lalu saya mendapatkan kesempatan untuk belajar bersama dengan mereka. Maha Suci Allah.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/twit/'>Twit</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/417/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=417&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2012/01/30/pelajaran-bagi-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rengkuh Keberanian</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2012/01/11/rengkuh-keberanian/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2012/01/11/rengkuh-keberanian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 08:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/?p=414</guid>
		<description><![CDATA[Hidup kita dirahmati oleh berbagai peluang untuk beramal, dan tidak semua di antara kita yang menyadari hal itu. Kemungkinan karena ketidaktahuan atau bisa juga karena ketiadaan kesadaran dan akal sehat, atau bahkan karena hati yang sudah kering lapuk oleh dunia. Ali bin Abi Thalib ra dengan keagungan dan kebijakannya menjelaskan kepada kita bahwa kebenaran dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=414&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup kita dirahmati oleh berbagai peluang untuk beramal, dan tidak semua di antara kita yang menyadari hal itu. Kemungkinan karena ketidaktahuan atau bisa juga karena ketiadaan kesadaran dan akal sehat, atau bahkan karena hati yang sudah kering lapuk oleh dunia.</p>
<p><span id="more-414"></span></p>
<p>Ali bin Abi Thalib ra dengan keagungan dan kebijakannya menjelaskan kepada kita bahwa kebenaran dapat datang dari mana saja. Namun dibutuhkan kebersihan dan kejernihan hati untuk dapat melihatnya. Dan dibutuhkan keberanian untuk merengkuh kebenaran dan menjadikannya bagian dari diri kita. Dalam tulisan kali ini, saya ingin mengajak pembaca untuk merenungi mengenai keberanian itu.</p>
<p>Tulisan ini beranjak dari kenyataan pahit dalam dunia Islam saat ini. Dimana mereka yang menyematkan diri sebagai kader dakwah, pengemban amanah para Rasul dan Nabi, penerus jalan para sahabat dan generasi terdahulu, para ulama dan mujahidin, lalai dalam memberanikan diri mereka untuk merengkuh kebenaran yang ada di hadapan mereka. Keberanian mereka luntur jika dihadapkan pada kenyataan hidup yang mereka jalani.</p>
<p>Mungkin mereka tidak pernah membayangkan betapa takutnya Rasulullah saw ketika Jibril as menampakkan wujudnya pertama kali. Betapa menakutkannya amanah kerasulan dan kenabian yang diamanahkan ke pundak Rasulullah saw sampai-sampai beliau tidur berselimut dan bermandikan keringat dingin. Namun Rasulullah bangkit dengan lantang menyuarakan tauhid di hadapan kaum kafir Quraisy daan kemudian suara itu terdengar hingga ke pelosok dunia melintasi samudera dan jaman hingga ke pangkuan kita.</p>
<p>Sejarah juga menunjukkan kita kepada wajah para sahabat Rasulullah saw yang melihat kebenaran yang dibawa beliau. Bayangkan kengerian seorang Bilal ra yang hanyalah budak atau seorang Ammar bin Yasir ra melihat keluarganya disiksa dan dibunuh di hadapannya. Para sahabat yang beriman menahan lapar karena boikot penduduk Mekkah, apakah tidak ada ketakutan dalam diri mereka menghadapi hari esok? Mereka bahkan sampai menaikkan keluhan kepada Rasul memohonkan pertolongan Allah. Ya, mereka mengalami ketakutan ketika kebenaran dihadapkan kepada mereka.</p>
<p>Atau bayangkan ketakutan Nabi Yahya as sebelum dibelah menjadi dua dengan gergaji. Nabi Ibrahim as yang hendak dilemparkan ke dalam panas api yang menyala. Nabi Nuh as yang akan menghadapi banjir yang hendak menelan seisi Bumi ini. Musa as bersama denga Nabi Harun as menghadapi kebengisan Fir&#8217;aun dan tentaranya. Ya, mereka semua adalah manusia yang memiliki rasa takut dalam diri mereka, namun mereka melangkah.</p>
<p>Jika derajat para Nabi dan Rasul, juga para sahabat mungkin terlalu tinggi untuk dibandingkan, bagaimana dengan Ghulam pemuda yang dipanah oleh raja lalim demi mendakwahkan kekuasaan Allah. Juga rakyat jelata yang memilih melompat ke dalam parit api karena kebenaran yang nampak dari si Ghulam tersebut.</p>
<p>&#8220;Ahad.. ahad..,&#8221; demikian Bilal ra mengulang-ulang.</p>
<p>&#8220;Jangan takut, Ibu, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran,&#8221; dari seorang anak kepada ibunya yang takut untuk melompat ke dalam parit api si raja lalim.</p>
<p>&#8220;Jangan takut, sesungguhnya Allah beserta kita,&#8221; sabda Rasulullah saw di dalam gua persembunyian kepada abu Bakar Ash-Shiddiq ra.</p>
<p>&#8220;Jangan takut, sesungguhnya Rabb-ku menyertaiku,&#8221; sabda Musa as kepada bani Israel yang mengejar di belakang mereka tentara Fir&#8217;aun dan dihadapan mereka Laut Merah membentang luas.</p>
<p>Keberanian selalu menyertai mereka yang ridho terhadap ketentuan Allah ta&#8217;ala. Walaupun konsekuensi dari kebenaran itu akan mengoyak kehidupan mereka, mencabik-cabik kenyataan yang mereka nikmati selama ini, dan melumatkan harapan jahiliyyah yang sebelumnya mereka pegang teguh. Tanpa keridhoan tak akan ada keberanian. Tanpa keberanian, maka jiwa akan senantiasa terkungkung dalam kesesatan dan kenistaan dunia yang hina.</p>
<p>Inilah jalan yang ditempuh para Nabi dan Rasul. Juga oleh mereka yang membenarkan nubuat dan risalah yang dibawa ke hadapan mereka. Merekalah yang berada di dalam jalan yang diberikan kenikmatan atas siapa yang berada didalamnya. Inilah mereka yang memeluk Islam lalu mengacuhkan dunia dengan kefanaannya dan memilih janji Allah ta&#8217;ala. Mereka berani untuk merengkuh kebenaran.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bish-showab.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/tausiyah/'>Tausiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/414/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=414&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2012/01/11/rengkuh-keberanian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bara Yang Padam</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2012/01/02/bara-yang-padam/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2012/01/02/bara-yang-padam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 16:14:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Kayu ya.ng dikeringkan akan menjadi api yang menyala dan membakar apa saja yang berada didekatnya. Semakin banyak kayu kering, semakin panas api yang dapat membakar apapun. Namun, api tersebut akan menemui saatnya untuk padam. Menjadi asap, bara dan meninggallkan noda hitam di sekelilingnya. Tanpa arah, hanya membakar lalu padam. &#8230;&#8230;..More Semangat di dalam dada setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=409&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kayu ya.ng dikeringkan akan menjadi api yang menyala dan membakar apa saja yang berada didekatnya. Semakin banyak kayu kering, semakin panas api yang dapat membakar apapun. Namun, api tersebut akan menemui saatnya untuk padam. Menjadi asap, bara dan meninggallkan noda hitam di sekelilingnya. Tanpa arah, hanya membakar lalu padam.</p>
<p><font color="#777777">&#8230;&#8230;..More</font></p>
<p>Semangat di dalam dada setiap jiwa yang kering akan memiliki dampak yang sama dengan itu. Membakar dan turut membawa apa yang ada disekitarnya turut terbakar dalam lahapan api yang membara. Keringnya jiwa menjadi bahan yang mudah terbakar oleh provokasi, manipulasi politik dan kemudian merugikan jika tidak dikendalikan untuk sebuah tujuan. Ia dapat menjadi manfaat jika diarahkan untuk tujuan yang benar dan juga dapat menjadi mudharat atau kesia-siaan jika ada tanpa tujuan atau bahkan untuk tujuan yang salah.</p>
<p><span id="more-409"></span></p>
<p>Sekelompok manusia yang bersemangat mencari ilmu dan berusaha sebisa mungkin untuk beramal, memiliki jiwa yang serupa. Mudah terbakar dengan semangat yang ada. Sayangnya, mereka jarang menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bisa jadi merugikan bagi diri mereka jika tak terarah dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Permasalahannya adalah mereka membutuhkan ilmu untuk menentukan arah tujuan yang benar agar amal mereka menjadi terarah untuk kebaikan dan bermanfaat. Tanpa ilmu, amal yang dilakukan jelas tidak akan terarah.</p>
<p>Uniknya, saat ini lebih banyak jiwa yang memiliki semangat tanpa ada kerendahan hati untuk meminta atau mengikuti arahan dari mereka yang sudah jelas berilmu. Awalnya mereka seringkali menolak arahan. Lalu mereka juga dengan keangkuhan, melangkah tanpa meminta arahan.</p>
<p>Seorang ustadz pernah mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Hal ini membuat jiwa mereka yang kering demikian mudah terbakar tanpa arahan. Adalah kerendahan hati dan ketulusan yang dapat selamatkan mereka. Dan tentu juga kesabaran.</p>
<p>Kerendahan hati membawa mereka kepada kesadaran bahwa mereka membutuhkan arahan. Ketulusan menjadikan mereka patuh mengikuti arahan sesuai dengan keilmuan yang sudah mereka miliki sehingga mereka bersedia membatasi diri untuk beramal sesuai dengan keadaan dirinya. Lalu kesabaran menjaga mereka dari ketergesaan semangat yang senantiasa membakar jiwa mereka.</p>
<p>Satu amal besar bukanlah sebuah prestasi jika tidak dapat dilakukan secara istiqomah. Namun sebuah amal yang nampaknya sepele dan kecil dapat menyelamatkan diri dari azab pedih dan siksa api neraka jika dijaga agar senantiasa menyala dalam jiwa dan tidak padam menguap.</p>
<p>Bukankah sangat disayangkan jika ketidaktahuan kita membawa kita menjadi bara yang padam, tidak lagi menyala dan membakar lalu akan segera mati?</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/409/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=409&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2012/01/02/bara-yang-padam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dunia.. Dunia.. Dunia..</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/11/20/dunia-dunia-dunia/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/11/20/dunia-dunia-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2011 18:03:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Tidak akan pernah kita temukan seorang ulama yang mulia dan istiqomah dalam agama, namun bergelimangan dengan dunia. Tidak akan pernah tercatat pula dalam sejarah dimana kemuliaan seorang hamba Allah diukur dari jumlah hartanya, ataupun dari besar dan mewah rumahnya. Jikapun ada, maka tentu tidaklah banyak. Kehidupan dunia dan akhirat secara hakikat memang seakan berlawanan, walaupun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=406&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak akan pernah kita temukan seorang ulama yang mulia dan istiqomah dalam agama, namun bergelimangan dengan dunia. Tidak akan pernah tercatat pula dalam sejarah dimana kemuliaan seorang hamba Allah diukur dari jumlah hartanya, ataupun dari besar dan mewah rumahnya. Jikapun ada, maka tentu tidaklah banyak.</p>
<p>Kehidupan dunia dan akhirat secara hakikat memang seakan berlawanan, walaupun sebenarnya tidak demikian. Sudut pandang manusia yang sempit menjadikan dunia sebagai idola dan akhirat hanya diletakkan di awang-awang mimpi, tergantung dengan manis untuk diratapi dan dibayangkan. Ketika dunia menjadi sesuatu yang nyata di depan mata, maka sangatlah mudah bagi kita untuk berupaya mengejarnya, bukan? <span id="more-406"></span></p>
<p>Dalam sebuah hadits yang mengisahkan keluhan Handzalah ra kepada Abu Bakar ra, yang kemudian keduanya mengadukan keluhan mereka kepada Rasulullah saw, ada sesuatu hal yang seringkali luput dari perhatian kita. Yaitu bagaimana Handzalah dan Abu Bakar menggambarkan kondisi iman dalam keadaan matang dan puncak ketika mereka berada bersama dengan Rasulullah. Dalam uraian Handzalah dalam hadits tersebut, seakan surga dan neraka terhampar di hadapan mereka sehingga mereka dapat melihat dengan nyata, merasakan harapan dan ketakutan dengan pemandangan tersebut.</p>
<p>Hal semacam inilah yang menjadikan generasi para sahabat menjadi sebuah generasi yang tidak mungkin tersaingi sepanjang masa.</p>
<p>Hal yang unik pada umat manusia jaman sekarang, atau mungkin sejak jaman dahulu, adalah kita mengejar sesuatu yang tidak pasti hanya karena ia berwujud nyata di hadapan mata kita. Seakan karena ia berwujud, berbau dan berasa, maka ia adalah sesuatu hal yang pasti. Padahal, seumur hidup kita dan ditambahkan dengan sepanjang umur yang sama, belum tentu kita bisa dapatkan hal tersebut. Namun hal tersebut tetap kita kejar seakan ia merupakan sebuah hal yang pasti.</p>
<p>Kenyataannya, hanya ada dua kepastian yang absolut dalam hidup kita di dunia. Pertama, masa lalu yang sudah kita lewatkan beriringan dengan waktu yang terus berjalan. Kedua, akhir dari masa hidup kita yang tidak dapat kita ketahui kapan datangnya. Dua hal ini adalah kepastian dalam hidup ini.</p>
<p>Permasalahannya adalah kita lalai mempersiapkan diri untuk hal yang jelas dan pasti tersebut, karena keadaan kita yang disibukkan dengan ketidakpastian dunia. Harta, kekuasaan. Kedudukan, jabatan. Impian dan khayalan. Lalu kita melupakan kekalnya kenikmatan surga dan pedihnya kekekalan dalam kehinaan api neraka.</p>
<p>Dalam hadits yang disinggung di atas, Rasulullah menjelaskan keadaan iman yang terkadang naik dan juga terkadang turun. Yang perlu kita ingatkan pada diri kita adalah jangan sampai keadaan iman kita dalam posisi turun secara terus menerus.</p>
<p>Semoga Allah ta&#8217;ala memudahkan langkah kita untuk menuju keridhaan-Nya.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/tausiyah/'>Tausiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/406/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=406&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/11/20/dunia-dunia-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Matinul Khuluq</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/11/09/matinul-khuluq/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/11/09/matinul-khuluq/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 10:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/2011/11/09/matinul-khuluq/</guid>
		<description><![CDATA[@stiq_bal 1. Matinul khuluq, satu istilah yg dikenalkan oleh Ustadz Fathuddin Ja&#8217;far kpd saya melalui buku beliau, Road To Great Success. 2. Ustadz Fathuddin dlm buku tsb menjelaskan bhw matinul khuluq (akhlaq yg kuat) adlh akar dr akhlaqul karimah. 3. Kekuatan akhlaq yg berasal dr penerapan tauhid dlm diri, kemudian terjewantahkan mjd akhlaqul karimah. Itulah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=405&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>@stiq_bal</p>
<p>1. Matinul khuluq, satu istilah yg dikenalkan oleh Ustadz Fathuddin Ja&#8217;far kpd saya melalui buku beliau, Road To Great Success.</p>
<p>2. Ustadz Fathuddin dlm buku tsb menjelaskan bhw matinul khuluq (akhlaq yg kuat) adlh akar dr akhlaqul karimah.</p>
<p>3. Kekuatan akhlaq yg berasal dr penerapan tauhid dlm diri, kemudian terjewantahkan mjd akhlaqul karimah. Itulah matinul khuluq.</p>
<p>4. Dlm hal ini, seorg manusia tdk disetting utk memiliki sikap dan sifat selayaknya manusia, berbeda dg konsep yg diajarkan scr umum.<span id="more-405"></span></p>
<p>5. Misalnya, marah. Muslim yg marah ketika ajaran Islam dihinakan, hukum Allah ditelantarkan, jelas memiliki akhlaq yg kuat.</p>
<p>6. Permasalahan tdk mjd sempit ketika kita tempatkan masalah pd porsinya. Ada alasan dan cara yg menjadi variabel selain dr emosi.</p>
<p>7. Matinul khuluq membawa kita utk berakhlaq sesuai dg kondisi dan keadaan. Krn manusia memang bukan malaikat.</p>
<p>8. Ketika bicara mgnai akhlaqul karimah, kita bicara mengenai implementasi semata, bgmn berakhlaq scr umum dg baik. Kenyataan sgt berbeda.</p>
<p>9. Contoh matinul khuluq adlh Ibrahim as ketika beliau berhadapan dg ayahnya dan kaumnya. Penuh dg permusuhan thdp kemusyrikan.</p>
<p>10. Tidak ada yg menyatakan bhw akhlaq Ibrahim as ketika itu sbg akhlaq yg tercela. Bahkan Allah memuji dan perintahkan kita utk teladaninya.</p>
<p>11. Contoh dr akhlaqul karimah adlh ketika Ibrahim as mendoakan ampunan bagi ayahnya. Tp Allah malah melarang kita utk mencontohnya.</p>
<p>12. Contoh lain dr akhlaqul karimah adlh ketika Nuh as memohon keselamatan bagi anaknya kpd Allah, dr air bah. Allah melarang dg tegas.</p>
<p>13. Kekuatan akhlaq Nuh as kemudian menuntunnya utk bertaubat atas pemohonan ampunan kpd anaknya itu. Inilah matinul khuluq.</p>
<p>14. Jadi bisa kita simpulkan bahwa akhlaq para Nabi dan Rasul tidaklah terbatas pd akhlaqul karimah, namun sampai pd derajat matinul khuluq.</p>
<p>15. Mari kita ambil satu contoh lain, Rasulullah saw pernah mendoakan ibunya yg meninggal dlm keadaan belum berIslam. Ini akhlaqul karimah.</p>
<p>16. Dlm hadits tsb, Rasul justru merasa sedih, krn doa beliau ditolak oleh Allah. Namun beliau tetap ridha pd keputusan Allah. Matinul khuluq.</p>
<p>17. Ikhwah fillah, akhlaqul karimah adlh hal yg baik, namun tidaklah cukup. Matinul khuluq meliputi akhlaqul karimah dan keutuhan dlm tauhid.</p>
<p>18. Knp demikian? Krn akhlaqul karimah menjadikan kebaikan dan nilai2 manusiawi sbg parameter. Seorg pendeta bisa berakhlaq yg baik.</p>
<p>19. Namun matinul khuluq menjadikan tauhid sbg barometer penilaian dan timbangan baik atau buruk. Kepribadian bertauhid yg utuh.</p>
<p>20. Rasulullah pernah meluruskan pemahaman mgenai pepatah Arab jahiliyah, &#8220;Bantulah saudaramu baik ketika ia benar maupun salah.&#8221; </p>
<p>21. Mgenai peribahasa itu, Rasul meluruskan membantu saudara dlm kebaikan adlh dg mendukungnya semampu kita. Akhlaqul karimah.</p>
<p>22. Lalu sahabat menanyakan, &#8220;Kami mengerti bgmn membantu dlm kebaikkan, namun bgmn (maksud) membantunya dlm kemaksiatan?&#8221;</p>
<p>22. Rasul menjawab, &#8220;Dengan mencegahnya.&#8221; Inilah matinul khuluq. Ketika kita tetap melangkah sesuai dg tuntunan tauhid sbg timbangan.</p>
<p>23. Akhlaqul karimah akan menghentikan kita ketika keadaan membutuhkan tindakan yg tegas, konfrontasi misalnya. Namun matinul khuluq tidak.</p>
<p>24. Dlm sebuah hadits yg diriwayatkan dlm kitab Riyadhus Shalihin, dikisahkan mgenai seorg ahli ibadah yg tinggal dlm kaum yg kufur.</p>
<p>25. Maka Allah mengutus malaikat utk menimpakan azab atas kaum tsb. Ketika melihat seorg ahli ibadah tinggal didlmnya, malaikat kembali.</p>
<p>26. Malaikat ini melaporkan keadaan tsb, pdhal Allah Maha Mengetahui. Kita tahu bgmn kelanjutan kisah ini, bukan?</p>
<p>27. Allah justru perintahkan malaikat itu utk menimpakan azab kpd si ahli ibadah tsb, krn mukanya tdk pernah merah melihat kemaksiatan kaumnya.</p>
<p>28. Ahli ibadah tsb jelas memiliki akhlaqul karimah, sampai sang malaikat pun segan utk menimpakan azab kpd kaum itu. Namun itu tdk cukup.</p>
<p>29. Dibutuhkan matinul khuluq, akhlaq yg kokoh dan teguh dan berlandaskan pd tauhid yg lurus, utk selamatkan si ahli ibadah itu.</p>
<p>30. Si ahli ibadah kemudian mendptkan azab pertama yg diturunkan Allah krn dirinya yg tanpa integritas iman, kekuatan akhlaq, ketegasan sikap.</p>
<p>31. Kisah para sahabat pun penuh dg kisah mengenai kekuatan akhlaq mereka, bukan sekedar akhlaqul karimah semata.</p>
<p>32. Abu Bakar ra adlh seorg sahabat yg tdk diragukan akhlaqnya. Kemuliaan beliau diutamakan di antara para sahabat lainnya.</p>
<p>33. Tp lihat bgmn ketegasan Abu Bakar dlm mengambil sikap thdp kaum Muslimin yg menolak keluarkan zakat. Inilah matinul khuluq.</p>
<p>34. Ibnu Abbas ra mengatakan mngenai peristiwa itu, &#8220;Jika tidak ada Abu Bakar, niscaya umat Islam akan musnah dari muka bumi.&#8221;</p>
<p>35. Para sahabat, bahkan Umar ra awalnya menentang keputusan itu. Namun Abu Bakar menjadikan Allah dan RasulNya sbg timbangan dlm bersikap.</p>
<p>36. Lalu Utsman ra seorg yg pemalu luar biasa, akhlaqul karimahnya tsb bahkan membuat para malaikat malu dan Nabi pun malu di hadapan Utsman.</p>
<p>37. Ketika kaum Yahudi menawar dagangannya dg jmlh yg berlipat, Utsman menolak dan malah sedekahkan slrhnya utk kaum Muslimin. Matinul khuluq.</p>
<p>38. Jika Utsman mengambil tawaran kaum Yahudi tsb, maka perdagangan tsb adlh halal dr sisi syar&#8217;i. Tdk ada cela atasnya.</p>
<p>39. Namun kekuatan akhlaq seorg Utsman menolak utk menjual dagangannya krn pertimbangan lain, kemungkinan merugikan kaum Muslimin.</p>
<p>40. Sayangnya, saat ini banyak dari kita yg belum memiliki kekuatan akhlaq semacam ini, termasuk saya. Kita msh sering lalai.</p>
<p>41. Banyak dr kita yg berilmu dg luas, wawasan yg luar biasa, namun terdiam ketika penguasa lakukan kemaksiatan kpd Allah.</p>
<p>42. Lalu berdalih dg antiknya, agar taat kpd penguasa dan berakhlaqul karimah. Dimana matinul khuluq? Tidak ada.</p>
<p>43. Ada banyak da&#8217;i dg bahasanya yg bersayap, keilmuan yg dalam, referensi bacaan yg luar biasa, namun taat pd kemaksiatan qiyadahny.</p>
<p>44. Tdk ada beban dlm hati mereka, menyaksikan kemaksiatan yg berlangsung. Namun siapa yg ragukan akhlaq mereka? Akhlaqul karimah.</p>
<p>45. Ibadah mereka luar biasa. Celana cingkrang, jenggot panjang, jidat hitam krn sujud, namun tanpa matinul khuluq? Azab pertama kali menimpa mereka.</p>
<p>46. Amal mereka pun luar biasa. Tiap ada bencana, mereka datang duluan lengkap dg bendera partai. Tp diam ketika peran Ar-Rabb dilecehkan.</p>
<p>47. Janganlah kita seperti itu, krn keridhaan Allah tidak semata pd akhlaqul karimah. Ketegasan thdp kemusyrikan dan kemaksiatan jg perlu.</p>
<p>48. Demikian yg bisa saya sampaikan malam ini. Wallahu a&#8217;lam, wa billahi tawfiq.
 </p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/tausiyah/'>Tausiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=405&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/11/09/matinul-khuluq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikhlas dan Tauhid</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/11/07/ikhlas-dan-tauhid/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/11/07/ikhlas-dan-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 06:03:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/2011/11/07/ikhlas-dan-tauhid/</guid>
		<description><![CDATA[&#8216;Id Mubarak..! Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar..!! Kumandang takbir dari sejak malam hingga beberapa hari ke depan di setiap surau dan masjid. Di musholla, di rumah, hingga terdengar di pelosok-pelosok. Betapa indahnya kumandang takbir. Betapa syahdunya kaum Muslimin yang bersatu dalam lantunan takbir. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar..! Keindahan lantunan ini terdengar hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=403&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8216;Id Mubarak..! Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar..!!</p>
<p>Kumandang takbir dari sejak malam hingga beberapa hari ke depan di setiap surau dan masjid. Di musholla, di rumah, hingga terdengar di pelosok-pelosok. Betapa indahnya kumandang takbir. Betapa syahdunya kaum Muslimin yang bersatu dalam lantunan takbir.</p>
<p>Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar..!</p>
<p><span id="more-403"></span></p>
<p>Keindahan lantunan ini terdengar hanya setahun dua kali. Ketika kita merayakan hari raya Idul Fitri, dan kini ketika kita merayakan Idul Adha. Betapa kita merindukan asma Allah Azza wa Jalla dibesarkan, namun di saat yang sama ada hentakan kesadaran dalam benak kita. Hanya dua kali dalam setahun?</p>
<p>Satu tahun yang terdiri dari 365 hari itu, kita hanya bertakbir seperti ini hanya dua kali. Padahal nikmat Allah ta&#8217;ala yang kita rasakan tidak berbeda dan berkurang sepanjang tahun itu. Dan kebesaran Allah ta&#8217;ala juga tidak berkurang sepanjang tahun itu. Lalu mengapa kita membesarkan asma Allah hanya dua kali dalam setahun?</p>
<p>Dzikir yang kita lantunkan seringkali gugur dalam perjalanan hidup. Kita mengucap takbir lebih dari seratus kali dalam waktu satu hari satu malam, tapi tidak ada ketundukkan kita kepada Allah sepanjang tahun. Tidak sering kita bertafakkur, merenungkan kebesaranNya, kemuliaanNya dan kesempurnaanNya. Bahkan seringkali kita menodai kesemuanya itu dalam tindakan, perkataan dan sikap yang kita lakukan.</p>
<p>Satu kisah yang melatarbelakangi hari raya ini adalah peristiwa kemenangan Ibrahim as, ketika Allah ta&#8217;ala menurunkan wahyu berupa mimpi yang memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya. Perintah yang sungguh berat, dan seringkali dikutip dan dikaji oleh umat Islam demi menggapai hikmahnya.</p>
<p>Pertanyaan sebenarnya dari kisah tersebut yang jarang sekali ditanyakan adalah bagaimana Ibrahim as menemukan keikhlasan yang sedemikian besar, sehingga beliau teguh dalam menjalankan perintah Allah ta&#8217;ala tersebut. Lalu bagaimana juga seorang anak yang baru aqil baligh, Ismail as, dapat ikhlas ketika mengetahui bahwa ayahnya diperintahkan untuk menyembelih dirinya. Sungguh menakjubkan, bukan?</p>
<p>Jika kita perhatikan kisah Ibrahim as yang sering diangkat dalam Al Qur&#8217;an, maka kita akan menemukan bahwa kehidupan Ibrahim sedari kecil sudah sangat dekat dengan nilai-nilai tauhid. Sejak muda, Ibrahim sudah menentang kekufuran dan kemusyrikan kaumnya, memporakporandakan argumentasi dan fikroh musyrik yang menghantui kaumnya. Beranjak dewasa, Ibrahim as menentang pemikiran sesat para penyembah bulan dan benda langit lainnya.</p>
<p>Nilai tauhid telah bercokol dalam hati dan jiwa Ibrahim as, sehingga ketika beliau hendak dilemparkan ke dalam lautan api oleh kaumnya, beliau tidak meminta pertolongan kepada siapapun. Bahkan ketika Jibril as menghampiri dirinya menawarkan bantuan, jawaban Ibrahim as kukuh, &#8220;Aku hanya butuh pertolongan dari Allah.&#8221; (Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir)</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Ismail as? Ismail, seorang anak dari sesosok ibu yang luar biasa kental dengan nilai tauhid. Wanita yang ditinggalkan oleh suaminya di padang gurun tanpa kehidupan sedikit pun, dan ikhlas ketika ia mengetahui bahwa adalah atas perintah Allah, sang suami melakukan hal itu. Dari Hajar inilah nilai tauhid ditanamkan ke dalam jiwa Ismail as. Ayahnya seorang nabi, dan ibunya seorang wanita yang bertauhid.</p>
<p>Ibrahim as dan Ismail as tidak begitu saja mendapatkan keikhlasan yang luar biasa itu. Ada penempaan dalam kehidupan mereka, pendidikan demi pemahaman mereka sehingga mereka menjalankan hidupnya dalam satu nuansa, tauhid.</p>
<p>Allahu akbar!</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/tausiyah/'>Tausiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=403&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/11/07/ikhlas-dan-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merenungi Hati</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/21/merenungi-hati/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/21/merenungi-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 17:15:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/2011/10/21/merenungi-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita ingat berapa banyak waktu yang kita buang dalam sehari saja, dimana waktu itu tidak menghasilkan manfaat bagi diri kita dalam mendekatkan diri kepada Allah ta&#8217;ala, apa yang akan kita lakukan? Waktu adalah mahluk Allah yang paling unik. Ia konstan berjalan, stabil melangkah tanpa mengenal lelah. Ia tetap dan tidak berubah. Tidak pernah waktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=402&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita ingat berapa banyak waktu yang kita buang dalam sehari saja, dimana waktu itu tidak menghasilkan manfaat bagi diri kita dalam mendekatkan diri kepada Allah ta&#8217;ala, apa yang akan kita lakukan?</p>
<p>Waktu adalah mahluk Allah yang paling unik. Ia konstan berjalan, stabil melangkah tanpa mengenal lelah. Ia tetap dan tidak berubah. Tidak pernah waktu berjalan lebih cepat, ataupun lebih lambat. Tapi ia juga tidak pernah berhenti bergerak dan melangkah. Ia tidak pernah bahkan mundur satu langkah pun ke belakang. Hanya satu arahnya, maju ke depan.<br />
<span id="more-402"></span></p>
<p>Jika Allah berikan kepada Waktu sebuah pilihan, untuk dapat mundur kembali kepada tempat sebelumnya, mungkin ia akan dengan senang hati bergerak mundur. Namun kehendak mutlak Allah jadikan ia tetap dan konstan. Waktu tidak tergoyahkan dalam langkahnya maju ke depan, dan keadaan inilah yang menjadi kerugian bagi manusia.</p>
<p>&#8220;Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam keadaan yang sangat merugi, ..&#8221; QS. Al-Ashr : 1-2</p>
<p>Mengapa kita merugi? Karena kita tidak dapat mengulangi umur kita yang telah lewat. Karena dunia akan terus berputar hingga Allah tentukan masanya. Karena waktu akan terus berjalan tanpa hiraukan bagaimana keadaan kita saat ini.</p>
<p>Ibnul Jauzi pernah memberikan tausiyah dalam sebuah khutbahnya, bahwa manusia hidup hanya dalam tiga masa, tidak lebih. Masa lalu dimana kita tidak dapat ubah. Masa depan yang belum tentu kita bertemu dengannya. Dan saat ini, dimana kita memiliki kesempatan untuk perbaiki kesalahan di masa lalu, benahi keadaan untuk masa depan yang lebih baik.</p>
<p>&#8220;.. kecuali mereka yang beriman, lalu melakukan amal-amal shalih, dan saling menasihati kepada kebenaran lalu menasihati kepada kesabaran.&#8221; QS. Al-Ashr : 3</p>
<p>Empat syarat yang Allah berikan kepada kita sebagai arahan agar manusia terhindar dari kerugian. Dimana keempat syarat itu menunjukkan apa yang dapat kita lakukan pada saat sekarang ini. Karena waktu telah membuat kita melewati hari kemarin. Dan waktu juga belum tentu bertemu dengan kita esok.</p>
<p>Beriman kepada Allah ta&#8217;ala dan RasulNya, sebuah amalan hati, ucapan dan sikap perbuatan yang tidak terlepas dari kelalaian seorang manusia. Ada kalanya iman itu naik dan ada kalanya ketika iman menyentuh tingkat dasar. Apa yang bisa kita lakukan pada hari ini adalah menguatkan iman tersebut.</p>
<p>Sebuah kisah mengenai dua orang saudara yang tinggal serumah dua lantai. Si Kakak tinggal di lantai bawah dan si Adik tinggal di lantai atasnya. Si Kakak adalah orang yang gemar bermaksiat dan sebaliknya si Adik adalah seorang ahli ibadah. Selama puluhan tahun mereka tinggal bersama dengan sikap seperti itu.</p>
<p>Hingga suatu waktu, si Adik berpikir. &#8220;Aku telah beribadah seumur hidupku, dan kakakku selalu bermaksiat. Mungkin jika aku menemani kakakku dalam kemaksiatannya, aku dapat merasakan kehidupannya. Lagipula amalku sudah banyak dan Allah Maha Pengampun.&#8221; Maka si Adik pun melangkah turun ke bawah. Di saat yang sama, si Kakak pun merenung. &#8220;Hidupku selama ini penuh dengan maksiat, dan adikku rajin beribadah. Mungkin jika aku menemani adikku dan turut beribadah, aku akan merasakan nikmat ibadah dan mendapatkan hidayah.&#8221; Maka si Kakak pun segera menaiki tangga ke atas.</p>
<p>Tanpa mereka duga, mereka bertabrakan satu sama lain di tangga tersebut lalu meninggal dunia. Si Adik meninggal dalam keadaan ingin bermaksiat dan si Kakak meninggal dalam keadaan mencari hidayah. Siapa yang tahu waktu mereka ternyata sudah habis?</p>
<p>Melakukan amal-amal shalih, adalah syarat utama dalan meraih keridhaan Allah ta&#8217;ala. Baik yang ringan maupun yang besar. Yang disukai oleh Allah adalah amalan yang istiqomah, terlepas dari besar atau kecilnya amal tersebut, selama dilakukan ikhlas kepada Allah. Dua syarat sebuah amal menjadi amal yang shalih, pertama diikhlaskan kepada Allah dan kedua dilakukan sesuai dengan petunjukNya dan RasulNya.</p>
<p>Amalan shalih menjadi bukti keimanan yang terlihat nyata. Amal shalih tidak mungkin dikerjakan tanpa ilmu, karena itu mencari ilmu menduduki tempat yang mulia dalam kehidupan seorang yang beriman. Tanpa ilmu, tidak ada amal.</p>
<p>Saling menasihati kepada kebenaran, menjadi salah satu syarat agar kita tidak menjadi manusia yang merugi. Langkah seseorang yang beriman dan beramal shalih juga mengharuskan dirinya untuk membawa apa yang ia miliki kepada orang lain untuk menjadi manfaat.</p>
<p>Denga demikian, jadilah ia seorang memiliki deposito tabungan amal pahala yang menjadi penguat hujjah dirinya kelak di akhirat. Amalan yang senantiasa berbuah dan produktif, dimana kebaikan yang ia miliki turut diajarkan, diwariskan dan diamalkan oleh orang yang ia nasihati kepada kebenaran.</p>
<p>Maka beradalah ia pada sebuah kumpulan manusia dimana mereka sama-sama beriman, aktif dalam mengerjakan amal-amal shalih dan saling mengingatkan kepada kebenaran. Realita keterbatasan diri manusia tidak menghapuskan kemungkinan terjerumusnya kembali mereka kepada kesalahan, kelalaian dan ketergesaan.</p>
<p>Disinilah orang yang hendak mendapatkan keuntungan kemudian berusaha menasihati saudaranya kepada kesabaran. Agar mereka senantiasa berdiri dengan keteguhan dalam iman sebagaimana sabda Rasul, &#8220;Katakan aku beriman kepada Allah dan istiqomahlah.&#8221; Agar mereka senantiasa mengerjakan amal-amal shalih tanpa takut cercaan, makian, hinaan, dan siksaan dari orang mencintai kedzaliman dan kefasikan. Dan agar mereka senantiasa tetap saling kepada kebenaran walaupun beredarnya fitnah dari mereka yang bangga dengan kekufuran.</p>
<p>Waktu akan terus berjalan terlepas bagaimana keadaan kita. Sungguhlah kita berada dalam keadaan yang hampa tanpa amal dan merugi di akhirat kelak jika kita lalaikan nasihat dan petunjuk dari Allah ini. Wallahu a&#8217;lam bishshowab.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/tausiyah/'>Tausiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/402/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=402&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/21/merenungi-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untuk Wafa dari Tante Dite</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/18/untuk-wafa-dari-tante-dite/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/18/untuk-wafa-dari-tante-dite/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 14:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tajarrud.wordpress.com/?p=399</guid>
		<description><![CDATA[Personalize a greeting card Filed under: Kehidupan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=399&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" bgcolor="#ffffff">
<tbody>
<tr>
<td><a href="http://smilebox.com/play/4d6a63784f4459774d6a453d0d0a&amp;blogview=true&amp;campaign=blog_playback_link" target="_blank"><img src="http://smilebox.com/snap/4d6a63784f4459774d6a453d0d0a.jpg" alt="Click to play this Smilebox greeting" width="420" height="330" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td><a href="http://www.smilebox.com/?partner=smilebox&amp;campaign=blog_snapshot" target="_blank"><img src="http://www.smilebox.com/globalImages/blogInstructions/blogLogoSmilebox.gif" alt="Create your own greeting - Powered by Smilebox" width="420" height="46" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">Personalize a <a href="http://www.smilebox.com/" target="_blank">greeting card</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/399/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=399&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/18/untuk-wafa-dari-tante-dite/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://smilebox.com/snap/4d6a63784f4459774d6a453d0d0a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Click to play this Smilebox greeting</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.smilebox.com/globalImages/blogInstructions/blogLogoSmilebox.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Create your own greeting - Powered by Smilebox</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syarat Amal Shalih</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/18/syarat-amal-shalih/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/18/syarat-amal-shalih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 13:29:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Twit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tajarrud.wordpress.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[Rangkuman kultwit dari mas Iqbal (twitter:@stiq_bal blog: http://tajarrud.wordpress.com) tentang syarat-syarat suatu amalan dikatakan amal shalih. بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Tidak ada surga tanpa keridhaan Allah, dan tidak ada keridhaan Allah tanpa ketaqwaan kepadaNya yang terwujud dalam berbagai amalan shalih. Dua syarat sebuah amal dinyatakan sebagai amal shalih. Pertama, diikhlaskan semata kepada Allah. Kedua, mengikuti tuntunan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=391&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rangkuman kultwit dari mas Iqbal (twitter:@stiq_bal blog: http://tajarrud.wordpress.com) tentang syarat-syarat suatu amalan dikatakan amal shalih.</p>
<p>بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ</p>
<p>Tidak ada surga tanpa keridhaan Allah, dan tidak ada keridhaan Allah tanpa ketaqwaan kepadaNya yang terwujud dalam berbagai amalan shalih.</p>
<p>Dua syarat sebuah amal dinyatakan sebagai amal shalih. Pertama, diikhlaskan semata kepada Allah. Kedua, mengikuti tuntunan petunjukNya.</p>
<p>Mengikhlaskan sebuah amal kepada Allah adalah sebuah proses yang berkesinambungan, tidaak berhenti pada niat sebelum melakukan amal. Karena niat bisa berubah.<br />
<span id="more-391"></span></p>
<p>Ikhlaskan amal kepada Allah dilakukan dengan mengawali amal dengan meniatkannya kepada Allah, lalu menjaga keikhlasan itu sepanjang jalan, dan menjaga keikhlasan itu setelah kita melakukan amal tersebut. Ketiganya merupakan bagian yang tidak terlepas dari upaya mengikhlaskan amal kepada Allah.</p>
<p>Niat diawal amal adalah penegasan pertama akan keikhlasan kita kepada Allah dalam melakukan amal tersebut, tidak menyekutukan tujuan amal itu.</p>
<p>Masalahnya niat adalah sesuatu yg cenderung labil. Niat kita mudah berubah seiring jalan. Nah, ini kesulitan pertama dalam mengikhlaskan amal.</p>
<p>Jika keikhlasan hanya sebatas niat di awal amal, tentu kita tidak akan kesulitan melakukannya, bukan? Sayangnya ikhlas bukan sekedar itu.</p>
<p>Niat pada sebelum melakukan amal perlu penjagaan yang konstan agar ia senantiasa stabil, tidak berubah dan kokoh berada pada pondasinya. Mudah? Tidak.</p>
<p>Ali ra pernah menghentikan khutbahnya karena ia merasakan adanya ujub dalam hatinya. Ia kemudian melanjutkan setelah ia ikhlaskan kembali pada Allah.</p>
<p>Dalam sebuah perang, Ali ra diludahi oleh kaum kafir yang berduel dengan beliau. Ketika Ali hendak menghunus pedangnya, Ali berhenti sejenak.</p>
<p>Ali ra terhenti karena ia khawatir bahwa amarahnya yang menuntunnya untuk membunuh orang kafir tersebut, bukan keikhlasannya jalankan jihad fii sabilillah.</p>
<p>Seorang ulama besar pernah membubarkan ta&#8217;limnya karena jumlah pesertanya menjadi terlalu banyak sehingga ia takut keikhlasannya luntur lantaran ujub.</p>
<p>Orang yang berilmu tidak akan segan menghentikan amal yang sedang dilakukannya ketika ia khawatir amal tersebut rusak karena hal duniawi, tidak lagi ikhlas.</p>
<p>Padahal amal tersebut adalah amalan yang bisa jadi bersifat mubah sehingga boleh saja amal tersebut tidak diniatkan kepada Allah, contoh kisah Ali ra dalam peperangan tadi.</p>
<p>Kesulitan awal dalam ikhlas kepada Allah adalah menjaga kontinuitas ikhlas tersebut sepanjang kita lakukan amal. Kita seringkali berubah niat dalam hati.</p>
<p>Jika keikhlasan hanya sebatas niat di awal amal, tentu kita tidak akan kesulitan melakukannya, bukan? Sayangnya ikhlas bukan sekedar itu.</p>
<p>Kesulitan awal dalam ikhlas kepada Allah adalah menjaga kontinuitas ikhlas tersebut sepanjang kita lakukan amal. Kita seringkali berubah niat dalam hati.</p>
<p>Hasutan syaithon ke dalam hati kita tidak berhenti pada niat awal kita, maka perlulah kita menjaga kebersihan hati dari dunia dalam beramal shalih.</p>
<p>Kesulitan selanjutnya, menjaga keikhlasan tersebut selepas amal selesai dilaksanakan. Allah ta&#8217;ala bahkan ancam orang yang ungkit2 shodaqohnya.</p>
<p>Seorg tabi&#8217;in mengatakan bahwa ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah semata, dan seakan tidak melakukan apapun setelah selesai beramal.</p>
<p>Artinya ikhlas kepada Allah ta&#8217;ala adalah upaya yang tiada hentinya, karena kita segera lupakan amal sebelumnya dan memulai yang baru sedari awal.</p>
<p>Dengan mengungkit2 amal yang sudah kita lakukan, maka kita masukan ujub dalam hati kita, juga riya&#8217; yang merupakan bentuk kesyirikan dalam beramal.</p>
<p>Penjagaan terhadap keikhlasan sepanjang amal dan selepas amal, sama sekali bukan perkara mudah. Masalahnya, tanpa menjaga ikhlas, amal bisa rusak.</p>
<p>Dlm Al Qur&#8217;an, Allah ta&#8217;ala mengancam Rasulullah saw jika sampai beliau menyekutukan Allah dalam amal beliau. Padahal Rasul adalah kekasih Allah.</p>
<p>Jika Sang Kekasih Allah ta&#8217;ala mendapatkan ancaman untuk masalah keikhlasan, bagamana dengan kita yang hanya hamba Allah? Perlu upaya ekstra untuk jaga ikhlas.</p>
<p>Penjagaan terhadap keikhlasan dapat kita raih jika kita senantiasa bersihkan hati, rasakan pengawasan Allah terhadap diri kita, dan tawadhu.</p>
<p>Inilah pentingnya kajian tazkiyatunnafs. Karen penjagaan kebersihan hati berpengaruh langsung terhadap keikhlasan yang jadi syarat pertama dari amal shalih.</p>
<p>Hati yang bersih akan otomatis merasakan kebesaran Allah kemanapun ia melangkahkan kakinya. Jiwanya terkagum akan kebesaran Allah.</p>
<p>Kesadaran akan pengawasan Allah bangkit dari pengetahuan akan sifat Allah ta&#8217;ala, dari kesadaran dan kekaguman akan kebesaran Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Tawadhu merupakan konsekuensi dari kesadaran akan kebesaran dan pengawasan Allah ta&#8217;ala, dimana hati kita malu dan tunduk kepadaNya. Kunci ikhlas.</p>
<p>Lalu syarat yg kedua agar sebuah amal menjadi amal yang shalih adalah mengikuti petunjukNya, yg tertuang dalam Al Qur&#8217;an dalam pribadi Rasulullah.</p>
<p>Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa syarat kedua sebuah amal menjadi amalan shalih yang bernilai ibadah adalah mengikuti petunjukNya.</p>
<p>Pertanyaan yang sering terlontar perihal ini adalah mengapa sebuah amal shalih yang bernilai ibadah harus mengikuti petunjukNya.</p>
<p>Bagaimana dengan amal2 yang baik kita lakukan yang mungkin tidak sesuai dengan petunjukNya? Nah, ini pertanyaan yang rumit unutk dijelaskan. Mari kita urut logikanya.</p>
<p>Pertama dari sisi iman, dimana amal shalih merupakan buah dari keimanan. Kita bisa perhatikan seringnya Allah sandingkan iman dengan amal shalih.</p>
<p>Ibarat pohon yang menjulang, iman membuahkan amalan shalihah. Karena amal shalih merupakan pengejewantahan iman, aplikasi dari iman.</p>
<p>Orang yang beriman akan memiliki dorongan untuk beramal shalih, bukan semata beramal baik. Tuntutan ini menjadi wajar jika kita pahami perintah Allah.</p>
<p>Iman seseorg kepada Allah mengharuskannya mengimani apa yang datang dari Allah, yaitu Kitabullah, dan yang membawanya sebagai Rasulullah, utusan Allah.</p>
<p>Hal ini terlihat dalam hadits Jibril dimana Rasulullah menjabarkan apa itu iman. Iman tidak utuh tanpa beriman kepada Kitabullah dan Rasulullah.</p>
<p>Tidak beriman kepada Kitabullah dan RasulNya, bukan berarti ketidaksempurnaan iman. Tapi ketiadaan iman karena tidak utuhnya iman.</p>
<p>Nah, mengimani Kitabullah sebagai rukun dari iman mewajibkan setiap Muslim untuk berpegang pada Al Qur&#8217;an. Tidak ada tawar menawar disini.</p>
<p>Al Qur&#8217;an sebagai manhajul hayah, pedoman hidup, merupakan prinsip dasar hidup seorang Muslim, yang kemudian menjadi tolok ukur bagi setiap Muslim</p>
<p>Sayyid Quthb mengatakan bahwa iman demikian menuntut seorang Muslim menjadikan Al Qur&#8217;an sebagai penentu benar/salah, baik/buruk atas segala sesuatu.</p>
<p>Al Qur&#8217;an menjadi pedoman yang dinamis dalam hidup seorang Muslim. Hal ini bukanlah hal yang hanya merupakan khayalan belaka. Sejarah buktikan.</p>
<p>Generasi sahabat adalah contoh nyata dalam sejarah peradaban manusia bagaimana Al Qur&#8217;an merubah mereka ketika mereka jadikannya sebagai pedoman hidup.</p>
<p>Puncak produktivitas amal shalih dalam sejarah peradaban manusia terletak pada tiga generasi awal Islam, hasilnya jelas dan nyata.</p>
<p>Al Qur&#8217;an yang merupakan petunjuk dan peringatan bagi umat manusia benar-benar terasa hidup dalam kehidupan masyarakat Muslim.</p>
<p>Kita bisa melihat dr Abu Bakr Ash Shiddiq, seorang pemimpin karismatik yang setiap malam menyuapi seorang nenek yang buta. Amal shalih.</p>
<p>Umar bin Khaththab, pemimpin yang keras dan tegas namun tunduk patuh dengarkan nenek di pinggir jalan yang ingatkannya agar takut kepada Allah.</p>
<p>Khalid bin Walid, dengan pernyataan perangnya yang semata karena Allah bukan karena pemimpin atau popularitas diri sendiri, atau jabatan belaka.</p>
<p>Utsman bin Affan yang berdagang dengan Allah untuk keuntungan 10 kali lipat dengan menginfaqkan hartanya bagi kaum Muslimin. Amal shalih.</p>
<p>Bagamana dengan Suhail Ar Rumi, yang seluruh hartanya ditinggalkan di Mekkah karena mengikuti perintah Allah untuk hijrah? Beruntung perdagangannya.</p>
<p>Inilah konsekuensi iman, yaitu menjadikan petunjukNya sebagai manhajul hayah yang kemudian menimbulkan satu konsekuensi baru, taat kepada Rasul.</p>
<p>Ayat yang perintah kaum beriman untuk taat kepada Allah seringkali dilanjutkan dengan firman agar mentaati RasulNya. Ibarat dua hal yang tak terpisahkan.</p>
<p>Tidaklah seorang Muslim dikatakan beriman jika ia ridha mentaati Allah tapi tidak ridha mentaati RasulNya. Ini kebohongan yang nyata.</p>
<p>Inilah yang kemudian menyempurnakan syarat amal shalih yang kedua, yaitu dengan mentaati Rasulullah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.</p>
<p>Tanpa ikuti petunjuk dari Allah yang terjabarkan dalam penjelasan baik dalam bentuk lisan maupun perbuatan Rasul, maka sebuah amal bukan ketaatan.</p>
<p>Amal yang dilakukan tanpa landasan ketaatan, hanya akan menjadi sebuah amal yang baik bukan amal shalih. Inilah keunikan para sahabat.</p>
<p>Para sahabat tidak beramal baik semata, tapi mereka jadikan amal mereka sebagai bentuk ketaatan pada Allah dan RasulNya. Beramal shalih.</p>
<p>Salah seorang sahabat mengatakan, &#8220;Sungguh aku mencari pahala dalam tidurku sebanyak kalian dalam siang hari kalian.&#8221; Perhatikan.</p>
<p>Tidurnya aja merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sehingga ia menjadikan tidurnya sebagai amal shalih. Apa ga unik?</p>
<p>Syarat kedua ini, isyaratkan kita untuk hilangkan syahwat manusiawi kita dalam beramal apalagi jika berbenturan dengan tuntunan Allah dan RasulNya.</p>
<p>Demikian yang bisa saya sampaikan mengenai amal shalih. Wallahu a&#8217;lam bishshowab.<br />
Mohon koreksinya.</p>
<p>وَسَّلاَمُعَلَيْكُمْوَرَحْمَةُاللهِوَبَرَكَاعَتُ</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150340204663172&amp;refid=9&amp;cid=id_4e9ca4e2468631f56256540&amp;refsrc=http%3A%2F%2Ft.co%2Fkrxga6Kq&amp;_rdr">http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150340204663172&amp;refid=9&amp;cid=id_4e9ca4e2468631f56256540&amp;refsrc=http%3A%2F%2Ft.co%2Fkrxga6Kq&amp;_rdr</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/twit/'>Twit</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/391/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=391&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/18/syarat-amal-shalih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenali Dirimu ..</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/17/kenali-dirimu/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/17/kenali-dirimu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 18:07:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/2011/10/17/kenali-dirimu/</guid>
		<description><![CDATA[Ketergesaan, itu yang seringkali membuat sebuah rencana menjadi gagal dalam pelaksanaannya. Ketergesaan sebenarnya menandakan ketidaksiapan kita dalam menghadapi kenyataan atau realita yang terjadi di hadapan. Hingga akhirnya kita lalai dalam mengambil langkah. Ketergesaan juga merupakan bentuk ketidaksiapan mental, dimana semangat yang menjulang tinggi gagal diakomodir dengan pemahaman akan masalah. Ketika hal demikian terjadi, maka akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=390&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketergesaan, itu yang seringkali membuat sebuah rencana menjadi gagal dalam pelaksanaannya. Ketergesaan sebenarnya menandakan ketidaksiapan kita dalam menghadapi kenyataan atau realita yang terjadi di hadapan. Hingga akhirnya kita lalai dalam mengambil langkah.</p>
<p>Ketergesaan juga merupakan bentuk ketidaksiapan mental, dimana semangat yang menjulang tinggi gagal diakomodir dengan pemahaman akan masalah. Ketika hal demikian terjadi, maka akan terjadi langkah sembrono demi sekedar bergerak jalan tanpa memiliki panduan yang tepat, arahan yang jelas, tujuan yang mapan dan kesiapan sarana dan prasarana yang memadai. Akhirnya langkah yang diambil hanya akan menjadi sebuah langkah fiktif, seakan mereka sedang bergerak melangkah maju namun kenyataannya mereka sama sekali tidak bergerak bahkan mengalami kemunduran.</p>
<p><span id="more-390"></span></p>
<p>Permasalahannya adalah dibutuhkan kacamata orang yang memahami masalah dan bersih dari kepentingan dan hasrat pribadi untuk menyadari terjadinya ketergesaan dalam melangkah. Bahkan terkadang dibutuhkan orang yang sama sekali berada di luar untuk mengingatkan dan menyadarkan langkah yang tergesa-gesa itu. Disinilah peranan pengendalian eksternal memiliki andil bagi komunitas internal.</p>
<p>Muhasabah diajarkan dalam agama Islam bukan semata untuk mengevaluasi langkah yang sudah diambil. Muhasabah adalah sebuah proses yang dimulai sedari awal sampai akhir. Sayangnya seringkali kita lalai dalam bermuhasabah sebelum melangkah.</p>
<p>Aisyah ra pernah memberitahukan kepada Rasulullah saw akan seorang wanita yang ibadahnya seakan tak kunjung putus. Rasulullah kemudian mengingatkan kita agar tidak berlebihan dalam beribadah karena sesungguhnya Allah ta&#8217;ala tidak akan bosan menerima ibadah kita sampai kemudian kita lebih dahulu mengalami kejenuhan. Dalam riwayat lain, Rasul mengarahkan kita untuk istiqomah dalam melakukan hal yang kecil dan sepele karena itu lebih disukai Allah daripada amal yang seakan besar namun tidak istiqomah.</p>
<p>Kebijakan dan kearifan Rasulullah saw tersebut menuntun kita untuk bermuhasabah sebelum melakukan amal. Sebatas apa kemampuan kita dan sejauh apa yang dapat kita lakukan dan perjuangkan. Dalam tingkat individu, hal demikian dilakukan dengan melihat kemampuan, baik fisik maupun materi dan ruhani. Karena Allah ta&#8217;ala tidak membebankan setiap hambaNya melebihi dari kemampuan mereka yang memang terbatas.</p>
<p>Keserakahan kita terkadang membuat kita ingin melaju secepat kilat, meraup segala kemungkinan dan menghadapi setiap tantangan tanpa melakukan muhasabah terhadap kemampuan dan kesanggupan diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita tergesa-gesa karena kurangnya persiapan secara mental. Jadilah kita melangkah tanpa kesiapan, tanpa muhasabah.</p>
<p>Dalam tingkatan jama&#8217;ah, kita lebih sering lagi lalai dalam muhasabah. Hal ini mungkin dapat lebih dimengerti mengingat variabel yang mempengaruhi menjadi lebih banyak. Namun jika perangkat muhasabah tidak digunakan, maka hanya akan terjadi kebablasan dalam bertindak. Sebuah amal yang dicanangkan bersama hanya akan menjadi mimpi yang terbengkalai.</p>
<p>Penilaian akan kemampuan diri kita, baik individu maupun kelompok, diawali dengan muhasabah. Semakin baik kita sediakan perangkat untuk bermuhasabah, akan semakin detail kesadaran kita akan diri kita sendiri. Kita sadari kesanggupan kita dan persiapkan dalam batas kemampuan tersebut. Tidak berlebihan namun berpotensi istiqomah. Inilah yang lebih baik. Inilah yang diharapkan. Inilah yang diajarkan Rasulullah kepada kita.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>, <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/pemikiran/'>Pemikiran</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/390/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=390&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/17/kenali-dirimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tujuan Kita</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/12/tujuan-kita/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/12/tujuan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 15:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/2011/10/12/tujuan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap langkah yang dilemparkan tanpa memiliki tujuan jelas merupakan kesia-siaan. Ia menjadi tanpa makna, tanpa hakikat dan jelas tanpa manfaat. Langkah semacam ini merupakan sebuah kemubadziran, sehingga menjadikan kita lalai dan ceroboh. Kelalaian semacam ini jelas mempercepat jalan kita menuju ketersesatan, apalagi jika kita berada di belantara fitnah sebagaimana dunia sekarang ini. Dipenuhi dengan kenikmatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=386&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap langkah yang dilemparkan tanpa memiliki tujuan jelas merupakan kesia-siaan. Ia menjadi tanpa makna, tanpa hakikat dan jelas tanpa manfaat. Langkah semacam ini merupakan sebuah kemubadziran, sehingga menjadikan kita lalai dan ceroboh.</p>
<p>Kelalaian semacam ini jelas mempercepat jalan kita menuju ketersesatan, apalagi jika kita berada di belantara fitnah sebagaimana dunia sekarang ini. Dipenuhi dengan kenikmatan yang menipu, hasrat yang menggebu dan membelokkan, memutar kita, hingga kita benar-benar kehilangan arah. Kecerobohan kita semakin membawa kita terjerumus ke dalam jurang kenistaan dan kejahiliyahan. Tanpa tujuan, inilah yang akan kita dapatkan.</p>
<p><span id="more-386"></span></p>
<p>Walaupun dikemas dengan bahasa yang tinggi seperti &#8220;go with the flow&#8221; atau filosofi air mengalir, dan sebagainya, ketersesatan tetaplah tersesat. Ungkapan manis untuk membungkus kebimbangan karena hidup yang tanpa tujuan hanyalah langkah apologis agar manusia tidak semakin merasa buruk atas diri mereka sendiri.</p>
<p>Allah ta&#8217;ala telah berikan manusia tujuan dalam hidup mereka, namun tujuan tersebut hanya nampak jelas bagi mereka yang beriman dan bertaqwa. Demikianlah difirmankan Allah ta&#8217;ala dalam QS. Al Baqarah : 2, &#8220;(Kitab) ini tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang yang bertaqwa.&#8221; Petunjuk yang nyata jelas tidak mungkin memiliki keraguan, kerancuan dan ketidakpastian. Iman seseorang kepada Allah ta&#8217;ala mengikis semua itu dan jadikan Al Qur&#8217;anul Karim sebagai satu-satunya petunjuk dalam kehidupan.</p>
<p>Konsekuensi berikutnya dari menjadikan Al Qur&#8217;an sebagai petunjuk adalah mengikuti teladan dari mereka yang memahami dan menjalankan Al Qur&#8217;an sebagai petunjuk hidup. Siapa mereka? Jelas, Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wassalam dan para shohabat yang Allah berikan keridhaan atas mereka.</p>
<p>Kembali kepada bahasan awal kita, bahwa petunjuk dalam Al Qur&#8217;an memberikan kejelasan akan tujuan hidup kita. Hanya ada dua pilihan di penghujung jalan, surga Allah ta&#8217;ala atau siksaNya dalam kekekalan api neraka. Tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk menebak pilihan yang akan kita ambil dari dua pilihan tersebut, bukan?</p>
<p>Al Ustadz Fathuddin Ja&#8217;far, MA. mengatakan dalam salah satu tausiyah beliau bahwa orang yang bertaqwa memiliki dua orientansi hidup yang jelas bagi mereka, yaitu surga Allah ta&#8217;ala dan ampunanNya. Demikian sederhana namun sangat menggiurkan untuk diraih, walaupun jelas keduanya bukan &#8216;barang&#8217; murahan. Ada harga yang harus dibayar, pengorbanan yang harus diberikan, iman dan taqwa yang perlu dibuktikan.</p>
<p>Hidup seorang yang beriman dan bertaqwa kemudian menjadi ringan jika ia mengingat tujuan yang hendak diraihnya, imbalan yang dijanjikanNya, dan harapan atas rahmatNya yang tanpa batas. Tujuan yang jelas memberikan kita bayangan akan akhir perjalanan yang senantiasa menjadi motor dan bahan bakar motivasi diri. Tidak dibutuhkan pembelaan apologis dalam menjalaninya karena kebaikan yang tampak dalam tiap langkahnya yang senantiasa berikan manfaat. Ucapannya mengajak dan serukan manusia kepada jalan Allah ta&#8217;ala. Tindakannya menjadi teladan bagi umat manusia. Sikapnya menjadi cahaya yang menghilangkan gelapnya jahiliyah dari masyarakat yang penuh syubhat.</p>
<p>Ya Allah, jadikanlah kami menjadi bagian dari hambaMu yang senantiasa beriman dan bertaqwa. Dengarkanlah doa ini, ya Rabb, karena Engka Maha Pendengar dan Maha Mengabulkan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/tausiyah/'>Tausiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/386/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/386/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/386/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=386&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/12/tujuan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dakwahkah Ini?</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/09/dakwahkah-ini/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/09/dakwahkah-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 16:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://tajarrud.wordpress.com/2011/10/09/dakwahkah-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah daerah, saya menemukan beberapa kasus yang menarik dan ingin sekali saya bahas dalam artikel blog saya malam ini. Isi artikel ini memang merupakan pandangan pribadi saya yang dha&#8217;if sehingga mungkin tidak sesuai dengan pandangan syar&#8217;i yang benar. Jika demikian adanya, mohon koreksi terhadap kesalahan saya. Katakanlah daerah ini merupakan daerah pinggiran kota atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=385&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah daerah, saya menemukan beberapa kasus yang menarik dan ingin sekali saya bahas dalam artikel blog saya malam ini. Isi artikel ini memang merupakan pandangan pribadi saya yang dha&#8217;if sehingga mungkin tidak sesuai dengan pandangan syar&#8217;i yang benar. Jika demikian adanya, mohon koreksi terhadap kesalahan saya.</p>
<p>Katakanlah daerah ini merupakan daerah pinggiran kota atau bahkan bisa dikatakan jauh dari pinggiran kota. Perkembangan pemahaman Islam memang sedang marak di daerah-daerah, daerah yang menjadi bahasan kita kali ini pun tidak luput dari perkembangan dakwah Islam. Hanya saja masih banyak ditemukan pemahaman yang kurang utuh sehingga menjadikan pelaku dakwah ghuluw dalam menerapkan syariat Islam yang ia pahami.</p>
<p><span id="more-385"></span></p>
<p>Sebagai contoh, seorang tetangga yang tidak jauh dari tempat kami, yang mengikuti manhaj &#8216;salaf&#8217;. Ia melarang anaknya yang berumur 6-7 tahun untuk bermain bersama anak tetangga lainnua yang berbeda jenis kelamin dengan alasan haramnya campur baur antar gender. Ghuluw, hal ini yang terbersit dalam bayangan saya.</p>
<p>Ia pun mengucilkan dirinya dari lingkungan sekitarnya yang memang masih kental dengan nuansa Islam tradisional. Padahal sebagai seorang yang memahami Islam secara lebih baik, ia memiliki kewajiban untuk berdakwah bukan malah menghindari masyarakat sekitarnya. Kewajiban ini ia lalaikan, semata karena ia menolak bid&#8217;ah yang berlaku pada masyarakat sekitarnya. Adakah gunanya ia sebagai seorang Muslim jika ia tidak bisa berikan pemahaman Islam yang benar kepada tetangganya?</p>
<p>Lalu di sebelah rumah kami, tinggal sepasang suami istri dengan tiga anak mereka yang masih kecil-kecil. Hati saya merasakan mirisnya ketika para tetangga menceritakan betapa memprihatinkan kondisi anak-anak mereka yang seringkali telantar. Bukan karena orang tuanya tidak mampu berikan makan, tetapi karena orang tuanya terlalu sibuk dengan kegiatan partai &#8216;dakwah&#8217; sehingga anak mereka terkadang tidak memiliki makanan dan seringkali ditinggal sendiri.</p>
<p>Para tetangga sama sekali tidak berniat menggunjing kehidupan keluarga mereka, hanya saja kondisi anak mereka seringkali memprihatinkan. Sulitnya adalah pola pikir yang tertanam pada orang tua si anak mementingkan orang lain dengan mengatasnamakan dakwah walaupun sebenarnya yang sedang diperjuangkan adalah kepentingan partai, bukan Islam.</p>
<p>Keadaan di atas sungguh merupakan keadaan nyata dan tidak dibuat-buat. Masyarakat sekitarnya kemudian menilai bahwa aktivis dakwah yang berpenampilan Islami, secara pesimis. Padahal mereka seharusnya menjadi teladan, dengan menetapkan prioritas yang benar. Kehilangan prioritas inilah yang kemudian malah merugikan dakwah, pada kenyataannya. Ghuluw.</p>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/kehidupan/'>Kehidupan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=385&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/10/09/dakwahkah-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta dan Pernikahan, another point of view &#8212; sebuah kultwit by @stiq_bal</title>
		<link>http://tajarrud.wordpress.com/2011/09/29/cinta-dan-pernikahan-another-point-of-view-sebuah-kultwit-by-stiq_bal/</link>
		<comments>http://tajarrud.wordpress.com/2011/09/29/cinta-dan-pernikahan-another-point-of-view-sebuah-kultwit-by-stiq_bal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 11:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Stephanus Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Twit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tajarrud.wordpress.com/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[@stiq_bal : banyak pasutri yg bingung ketika ditanyakan alasan mereka menikah. standarnya pd jawab menjalankan perintah agama dan sunnah Nabi. jawaban yg juga cukup banyak adlh cinta. ya, banyak pasutri yg menikah krn cinta. kedengerannya indah ya? sayangnya tnyata tdk seindah itu. jika kita buat data statistik, kira2 brp bnyk pasangan yg bercerai diawali dg [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=378&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>@stiq_bal :</div>
<ul>
<li>banyak pasutri yg bingung ketika ditanyakan alasan mereka menikah. standarnya pd jawab menjalankan perintah agama dan sunnah Nabi.</li>
<li>jawaban yg juga cukup banyak adlh cinta. ya, banyak pasutri yg menikah krn cinta. kedengerannya indah ya? sayangnya tnyata tdk seindah itu.</li>
<li>jika kita buat data statistik, kira2 brp bnyk pasangan yg bercerai diawali dg pernikahan yg berlandaskan cinta? buanyyaaakk..</li>
<li>bahkan salah satu alasan pribadi dr pasangan yg hendak bercerai adlh krn sdh tdk lagi mencintai pasangannya. ini fakta lapangan lho.</li>
<li>ada banyak kasus dimana pernikahan tdk lg dpt dipertahankan, dgn alasan yg paling banyak itu justru, ya cinta itu tadi. ironi kan?<span id="more-378"></span></li>
<li>pertanyaan yg paling dasar skrg menjadi, apakah itu cinta? mengapa cinta menjadi alasan pernikahan dan juga perceraian?</li>
<li>kenyataannya, <strong>cinta hanyalah emosi. dan emosi manusia scr hakikat akan selalu labil. pernikahan dilandaskan cinta adlh pernikahan yg labil</strong>.</li>
<li><strong>cinta tdk cukup kuat utk dijadikan tali pegangan bagi sebuah pernikahan, walaupun cinta jelas dibutuhkan dlm setiap pernikahan</strong>.</li>
<li>labilnya emosi yg naik dan turun menyebabkan pernikahan yg dilandaskan cinta merupakan pernikahan yg sangat riskan.</li>
<li>dlm bbrp kasus konsultasi yg saya temui, hilang atau menurunnya cinta thdp pasangan menjadi alasan utama penyebab tjadinya perselingkuhan.</li>
<li>rumitnya, perselingkuhan sering dilakukan oleh wanita bersuami lbh banyak drpd yg dilakukan oleh pria beristri. setidaknya itu yg saya temui</li>
<li>sebutlah dr 5 kasus yg saya temui, kesemuanya melibatkan istri yg selingkuh dan hanya 2 yg melibatkan suami berselingkuh. ga percaya?</li>
<li>fakta menyedihkan adlh anak muda kita saat ini, lbh memiliki pola pikir bahwa pernikahan HARUS dilandasi dg cinta. kesalahan remaja.</li>
<li>lanjut.. dlm sebuah diskusi dg bbrp org Barat, saya lihat ada kesamaan pola pikir bhw pernikahan hanya akan ada dg landasan cinta.</li>
<li>tdk perlu dipungkiri ada banyak pernikahan yg dilandasi cinta, dan awet sampai maut memisahkan mereka. tp ada hal yg menarik disini.</li>
<li>dlm pernikahan yg awet tsb, jika kita tanyakan pd pasutrinya, kita akan temukan bhw mereka bljr utk tdk hanya mengandalkan pd cinta semata.</li>
<li>dlm jangka panjang, cinta akan berubah bentuk, terubah esensinya menjadi sesuatu yg sama sekali lain dan itulah yg buat mereka awet.</li>
<li>jika cinta itu adlh landasan yg rapuh, lalu apa yg menjadi landasan yg kuat bagi sebuah pernikahan? adakah yg lbh kuat dr cinta? ada.</li>
<li>landasan yg kokoh adlh landasan yg stabil, konstan dan tdk bergerak. ia tdk goyah diterpa badai dan tdk lapuk melalui waktu. aqidah.</li>
<li>dlm Al Baqarah:256, dijelaskan akan satu hal yg penting dan makna ayat ini sangatlah luas menyentuh slrh aspek kehidupan kita.</li>
<li>dlm tiap kasus pernikahan yg saya temui, saya coba tanyakan kpd pasangan apa landasan pernikahan mereka. biasanya, mereka tdk bisa menjawab.</li>
<li>mereka berada dlm posisi yg serba salah krn pernikahan mereka diawali dg cinta, lalu kemudian bermasalah krn cinta sdh tdk lg ada.</li>
<li><strong>mslhnya bukan pd bgmn menjaga cinta senantiasa hadir dlm pernikahan, krn hal ini tdk sulit. tp utk menjaga cinta utk abadi, tdk mgkn</strong>.</li>
<li><strong>sesuatu yg pd hakikatnya labil, spt cinta, jk dipaksakan utk konstan, hslnya spt puding yg dikeraskan. slrh bagiannya bgetar jika digoyang</strong>.</li>
<li><strong>aqidah, di sisi lain, adlh sesuatu yg tdk bergerak. berbeda dg iman yg naik dan turun, aqidah konstan dan stabil. aqidah hakikatnya demikian</strong></li>
<li>seorg yg aqidahnya berpindah2, tdk stabil, adlh jelas seorg munafik. apalagi yg aqidahnya bongkar muat spt JIL, itu bukan aqidah namanya.</li>
<li><strong>keikhlasan kpd Allah dlm setiap aspek kehidupan, terutama dlm bahasan kali ini pernikahan, mjd landasan yg lbh stabil drpd cinta</strong>.</li>
<li>ketika Allah dijadikan landasan dlm pernikahan, maka barometer slrh pernikahan akan bergeser dan berubah. bayangkan bedanya.</li>
<li>bandingkan sebuah pernikahan dmn landasannya brubah seiring emosi pasangannya, dg sebuah pernikahan yg landasann sesuatu yg tetap.</li>
<li><strong>cinta mjd bumbu, bukan menu utama, bukan tujuan akhir dan juga bukan alasan utk apapun. cinta dikembalikan pd porsinya</strong>.</li>
<li>fenomena masyarakat kita saat ini adlh ghuluw dlm melihat banyak hal. cinta dan kasih sayang demikian diagungkan, sugar-coated life.</li>
<li>nah sekalian menjawab pertanyaan dari ukhti @nur_syam, kita masuk kpd tataran praktik. sekedar contoh aja ya, utk konkret agak sulit.</li>
<li>knp sulit? sama sekali bukan krn pernikahan berlandaskan aqidah adlh hal yg utopis, tp krn yg semacam ini sdh masuk dlm ranah pribadi.</li>
<li>artinya, praktik konkret dlm hal ini bisa jadi memiliki bentuk yg berbeda antar satu pasangan dg pasangan yg lain. nah kita mulai skrg.</li>
<li><strong>dlm pernikahan yg berlandaskan cinta, istri akan melayani suami krn kecintaannya. jika cinta itu sdg turun maka pelayanannya jg kendor.</strong></li>
<li><strong>cnth, ketika suami pulang kantor disuguhi teh manis. kl sedang berantem, suami pulang dikasih cucian baju kotor. cinya sdg pergi ngelayap.</strong></li>
<li><strong>dlm pernikahan dg landasan aqidah, istri akan melayani suami krn ketaqwaannya kpd Allah semata. terlepas bgmn kondisi rmh tangga mereka.</strong></li>
<li><strong>cnth lain adlh ketika suami menyenangkan istri krn cintanya. lalu bgmn sikap suami ketika cinta sdg lemah? ngambek, ngomel.</strong></li>
<li><strong>di sisi lain, suami yg menyenangkan istri sbg bentuk ketaqwaan kpd Allah, akan berusaha bersikap sebaik mgkn terlepas keadaan dirinya.</strong></li>
<li><strong>suami bekerja bukan sekedar utk menafkahi keluarga, tp yg lbh utama ia bekerja krn perintah Allah utk menanggung nafkah keluarganya.</strong></li>
<li>nah, dlm kedua cnth sederhana td bisa kita lihat scr praktik bgmn labilnya cinta dan betapa kokohnya aqidah, jika dijadikan landasan.</li>
<li>satu hal lg, pernikahan adlh ibadah yg dilakukan sepanjang masa pernikahan itu. ibadah yg diterima disisiNya adlh yg memang ditujukan kpdNya</li>
<li>semoga paparan barusan bermanfaat, mhn koreksinya jika ada kesalahan yg menyimpang dr Quran dan Sunnah.</li>
<li>in my own sayings, <strong>&#8220;love is like fart. you&#8217;ll know when its in the air, and you&#8217;ll also know when its already gone</strong>.&#8221; #love</li>
</ul>
<br />Filed under: <a href='http://tajarrud.wordpress.com/category/twit/'>Twit</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tajarrud.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tajarrud.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tajarrud.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tajarrud.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tajarrud.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tajarrud.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tajarrud.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tajarrud.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tajarrud.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tajarrud.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tajarrud.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tajarrud.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tajarrud.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tajarrud.wordpress.com/378/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tajarrud.wordpress.com&amp;blog=21713571&amp;post=378&amp;subd=tajarrud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tajarrud.wordpress.com/2011/09/29/cinta-dan-pernikahan-another-point-of-view-sebuah-kultwit-by-stiq_bal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ace0b7b1c392e8f9bcddfcfce5692abe?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kragnut</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
