Dia Yang Tidak Mengantuk dan Tidak Tidur

Salah satu ayat yang sangat mashyur adalah ayat ke 255 dalam surat Al Baqarah, yang sering kita kenal dengan ayat kursi. Ayat ini berbicara mengenai keadaan Dzat Allah ta’ala beserta dengan keperkasaan-Nya dan keagungan-Nya. Mendalami makna ayat ini, memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan kita.

Kali ini saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk membahas salah satu sifat yang Allah ta’ala sematkan kepada Diri-Nya, agar kita dapat mewarnai hidup kita dengan sedikit pemahaman akan kebesaran-Nya. Hal ini penting sekali agar hati kita senantiasa tertunduk di hadapan Allah ta’ala dan tertanam didalamnya sikap tawadhu’.

Penggalan kalimat pertama dalam ayat ini adalah, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al Baqarah [2]:255). Penggalan ayat yang menjelas keperkasaan Allah ta’ala di atas segala sesuatu, di atas segala mahluk ciptaan-Nya, yang menjadi alasan peribadahan, penghambaan dan penyerahan diri dari mahluk-Nya semata kepada-Nya.

Adalah Dia, Yang Hidup Kekal dan secara terus menerus mengurusi mahluk-Nya. Betapa minim kesadaran kita akan pemeliharaan Allah terhadap diri kita. Bahwa Allah senantiasa mengawasi diri kita dalam setiap jam, setiap menit dan setiap detik dalam hidup kita. Pengawasan Allah yang senantiasa berada atas diri kita tidak pernah luput, terlalaikan atau meleset sedikitpun. Dan dalam pengawasan tersebut, Allah menjaga setiap hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Pengurusan Allah terhadap diri kita juga meliputi rezeki kita. Bagaimana diri kita tidak direzekikan oleh Allah ta’ala, padahal sejak dari kita tidak mampu menafkahi diri kita sendiri, Allah sudah mengirimkan pasokan makanan dalam perut ibu kita, memberikan asupan gizi melalui ASI, dan menanamkan kecintaan dalam hati setiap orang tua terhadap anaknya? Pengurusan Allah terhadap diri kita dimulai sejak dari kita memiliki kebutuhan dalam kehidupan, yaitu sejak dari kita masih berupa janin, dan kelak sampai kita dikembalikan kepada tanah.

Satu hal yang ayat ini tekankan, yaitu Allah tidak mengantuk dan tidak tidur. Artinya tidak ada peluang kelalaian dalam pengurusan Allah terhadap mahluk-Nya. Tidak mungkin Allah dapat mengurusi mahluk-Nya yang berjuta-juta ini jika Dia memiliki kelemahan yang mengharuskan Dia istirahat dan tertidur. Ini adalah bukti keperkasaan Allah Al Hayy Al Qoyyum.

Mengantuk adalah bukti kelemahan yang hanya dimiliki oleh mahluk ciptaan. Demikianlah keadaan kita dibandingkan dengan Allah ta’ala yang Maha Perkasa, dimana kita memiliki kelemahan dan kealpaan sedangkan Allah Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Maha Sempurna tanpa ada kelemahan sedikitpun dalam Diri-Nya. Dia tidaklah mengantuk dan lalai.

Adapun dibalik kelemahan mahluk tersebut, telah Allah jadikan sebagai nikmat atas diri kita. Dengan mengantuk, dimana ada keterbatasan energi yang membuat kita membutuhkan istirahat dan tidur, Allah menjadikannya sebagai sebuah kenikmatan yang berupa rezeki atas diri kita. Jadi Allah tidak menjadikan kantuk dan tidur sebagai kelemahan semata, namun juga menjadikannya sebagai sebuah nikmat atas hamba-Nya.

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (Al Furqon [24]:47)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar Rum [30]:23)

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS. An Naba’ [78]:9)

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, ..” (QS. Al Anfal [8]:11)

“Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, ..” (QS. Ali Imron [3]:154)

Betapa pengurusan Allah terhadap diri kita tidak luput dari pembentukan sistem hidup dalam diri kita sendiri. Demikian telitinya Allah ta’ala, dan demikian besar rahmat-Nya kepada diri kita, sehingga ketika sesuatu yang menjadi kelemahan diberikan kepada hamba-Nya maka Allah berikan hikmah berupa nikmat didalamnya. Namun sedikitlah dari kita yang bersyukur atas nikmat ini, karena ketiadaan ilmu sehingga menjadikan kita lalai untuk mensyukuri waktu kantuk dan tidur kita sebagai rahmat dari Allah ta’ala.

Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan kita dalam berbagai hadits perihal doa ketika bangun dari tidur, yaitu doa yang memuji nama Allah dan bersyukur kepada-Nya. Antara lain yang mashyur adalah “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya tempat kembali.” (HR. Bukhari).

Lalu dalam berbagai hadits juga diajarkan kepada kita mengenai doa menjelang tidur yang menggambarkan rasa takut dan harap seakan kita hendak beribadah. Kenyataannya adalah tidur adalah nikmat dan juga ibadah kepada Allah ta’ala sehinga adabnya pun diatur dan dijaga agar tidur kita bernilai pahala, dan bangunnya menuai syukur kepada-Nya.

Wallahu ta’ala a’lam.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s