Sedikit Tentang Ikhlas dan Amal

Sebuah peribahasa Melayu yang cukup sering kita dengar tiba-tiba melekat di pikiran saya. “Gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya, manusia mati meninggalkan namanya,” demikian bunyi peribahasa tersebut. Kita semua tentu paham apa yang dimaksudkan dengan peribahasa tersebut.

Manusia mati meninggalkan nama. Hanya sebuah nama di atas nisan. Kira-kira apa arti sebuah nama di atas sebuah nisan tersebut?

Baca lebih lanjut

Sedikit Bertanya

Indahnya ukhuwah, baik dalam lingkup manapun, ditunjukkan dengan kebersamaan dalam pengorbanan yang diberikan oleh semua yang ada didalamnya. Ada kebersamaan dan ada pengorbanan. Keduanya beriringan dan berjalan bersama. Baik dalam keluarga antara suami, istri dan anak-anak, maupun dalam lingkup komunitaa yang memiliki tujuan yang jelas. Atau bahkan dalam lingkup yang jauh lebih luas, yakni dunia internasional.

Walaupun bersama, namun tanpa pengorbanan maka tidak akan ada ukhuwah. Tak akan ada ikatan yang menyatukan jiwa dan raga kepada tujuan bersama. Sehingga kebersamaan itu hanya akan berasa hambar, kaku, dan sekedar formalitas saja. Baca lebih lanjut

Harapan Itu Selalu Ada

Sesungguhnya harapan itu akan selalu ada, tidak pernah surut dan tidak pernah hilang. Masalahnya adalah dimana letak harapan itu ditempatkan.

“Ibrahim berkata, ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang tersesat.'” QS. Ibrahim [15]:56

Harapan yang ditempatkan kepada Allah, adalah harapan yang tidak pernah habis, terbuka untuk segala kebaikan dan pasti akan berbalas. Ia bukan harapan yang semu dan memudar.

Tentu dengan menempatkan harapan kepada Allah maka kita juga menjalankan syari’at-Nya, beribadah sesuai dengan yang Allah hendaki dan ridhoi. Tidak mungkin kita menempatkan harapan kepada Allah dengan menyimpang dari jalan kebenaran, menyelisihi syari’at-Nya atau menjauhi ibadah kepada-Nya semata.

Mungkinkah kita menempatkan harapan kepada Allah dengan menghalalkan risywah, berdangdut ria, atau menqiyaskan GBK dengan Masjidil Haram? Allahulmusta’an.

Soal Dakwah

Apa kepentingan seorang da’i terhadap nama atau bendera kelompok? Padahal nama atau bendera tersebut tidak ditanya kelak di akhirat. Tidak juga nama atau bendera tersebut menambah pahala atau mengurangi dosanya.

Jika gerakan kita terkooptasi dalam sekat yang kita buat sendiri, maka jangan heran jika benturan semakin sering kita hadapi. Bukannya solusi, malah masalah. Bukannya jawaban, malah pertanyaan. Bukannya sampai tujuan, tapi tersesat dalam wacana. Baca lebih lanjut

Langkah Pertama

Semua diawali dari satu langkah. Langkah pertama inilah yang menentukan langkah kedua, dan langkah kedua akan menentukan langkah ketiga dan seterusnya. Tanpa langkah pertama, segalanya berhenti, tak ada pergerakan, tak ada perubahan, tak ada harapan. Yang tersisa hanyalah angan-angan.

Karena itu menentukan langkah pertama sangatlah penting dalam melakukan segala sesuatu, agar langkah kedua tidak blunder yang kemudian akan mengacaukan langkah ketiga dan keempat dan seterusnya. Langkah pertama menjadi pondasi awal sebuah gerakan, perubahan, kemajuan. Baca lebih lanjut

Bersikap Dewasa

Apa gunanya berteriak kepada mereka yang ‘tuli’? Mereka menutup diri atas suara yang memberikan peringatan atas sikap dan langkah mereka. Telinga mereka pekak dengan syahwat yang mereka buat sendiri, habislah suara kita sebelum kita meraih manfaat apapun.

Apa gunanya menunjukkan jalan kepada mereka yang menutup matanya sendiri? Mereka mengenakan kacamata kuda sehingga hanya dapat menatap satu arah ke depan, menghiraukan rambu-rambu jalan yang ada di samping kanan dan kiri. Yang terpenting bagi mereka adalah tujuan syahwat mereka, bukan kebenaran, bukan pula keadilan.

Baca lebih lanjut

Muhasabah dan Taubat

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa manusia hanya hidup dalam tiga masa. Yaitu masa lalu yang merupakan sesuatu yang tidak bisa diubahnya, masa kini dimana ia sedang menjalaninya dan masa depan yang seseorang tidak akan dapat tahu apakah ia akan bertemu dengannya.

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari nasihat Ibnul Jauzi di atas. Bahwa apa yang kita benar-benar miliki adalah hanya masa kini. Adapun masa kini terbentuk dan terjadi karena masa lalu kita. Apa yang kita miliki saat ini merupakan kasualitas dari apa yang sudah kita kerjakan, lengkap dengan kesalahan, kekurangan dan juga kelebihannya. Baca lebih lanjut