Harapan Itu Selalu Ada

Sesungguhnya harapan itu akan selalu ada, tidak pernah surut dan tidak pernah hilang. Masalahnya adalah dimana letak harapan itu ditempatkan.

“Ibrahim berkata, ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang tersesat.'” QS. Ibrahim [15]:56

Harapan yang ditempatkan kepada Allah, adalah harapan yang tidak pernah habis, terbuka untuk segala kebaikan dan pasti akan berbalas. Ia bukan harapan yang semu dan memudar.

Tentu dengan menempatkan harapan kepada Allah maka kita juga menjalankan syari’at-Nya, beribadah sesuai dengan yang Allah hendaki dan ridhoi. Tidak mungkin kita menempatkan harapan kepada Allah dengan menyimpang dari jalan kebenaran, menyelisihi syari’at-Nya atau menjauhi ibadah kepada-Nya semata.

Mungkinkah kita menempatkan harapan kepada Allah dengan menghalalkan risywah, berdangdut ria, atau menqiyaskan GBK dengan Masjidil Haram? Allahulmusta’an.

Soal Dakwah

Apa kepentingan seorang da’i terhadap nama atau bendera kelompok? Padahal nama atau bendera tersebut tidak ditanya kelak di akhirat. Tidak juga nama atau bendera tersebut menambah pahala atau mengurangi dosanya.

Jika gerakan kita terkooptasi dalam sekat yang kita buat sendiri, maka jangan heran jika benturan semakin sering kita hadapi. Bukannya solusi, malah masalah. Bukannya jawaban, malah pertanyaan. Bukannya sampai tujuan, tapi tersesat dalam wacana. Baca lebih lanjut

Langkah Pertama

Semua diawali dari satu langkah. Langkah pertama inilah yang menentukan langkah kedua, dan langkah kedua akan menentukan langkah ketiga dan seterusnya. Tanpa langkah pertama, segalanya berhenti, tak ada pergerakan, tak ada perubahan, tak ada harapan. Yang tersisa hanyalah angan-angan.

Karena itu menentukan langkah pertama sangatlah penting dalam melakukan segala sesuatu, agar langkah kedua tidak blunder yang kemudian akan mengacaukan langkah ketiga dan keempat dan seterusnya. Langkah pertama menjadi pondasi awal sebuah gerakan, perubahan, kemajuan. Baca lebih lanjut

Bersikap Dewasa

Apa gunanya berteriak kepada mereka yang ‘tuli’? Mereka menutup diri atas suara yang memberikan peringatan atas sikap dan langkah mereka. Telinga mereka pekak dengan syahwat yang mereka buat sendiri, habislah suara kita sebelum kita meraih manfaat apapun.

Apa gunanya menunjukkan jalan kepada mereka yang menutup matanya sendiri? Mereka mengenakan kacamata kuda sehingga hanya dapat menatap satu arah ke depan, menghiraukan rambu-rambu jalan yang ada di samping kanan dan kiri. Yang terpenting bagi mereka adalah tujuan syahwat mereka, bukan kebenaran, bukan pula keadilan.

Baca lebih lanjut

Muhasabah dan Taubat

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa manusia hanya hidup dalam tiga masa. Yaitu masa lalu yang merupakan sesuatu yang tidak bisa diubahnya, masa kini dimana ia sedang menjalaninya dan masa depan yang seseorang tidak akan dapat tahu apakah ia akan bertemu dengannya.

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari nasihat Ibnul Jauzi di atas. Bahwa apa yang kita benar-benar miliki adalah hanya masa kini. Adapun masa kini terbentuk dan terjadi karena masa lalu kita. Apa yang kita miliki saat ini merupakan kasualitas dari apa yang sudah kita kerjakan, lengkap dengan kesalahan, kekurangan dan juga kelebihannya. Baca lebih lanjut

Tanam dan Tuai

Dakwah ibarat menanam berkebun. Kita olah tanah kosong yang ada, kita bolak-balikkan tanahnya agar gembur, kita sebarkan pupuk, kita tanam bebijian dan kita jaga dari hama dan parasit yang hendak mencari keuntungan dari kebun kita.

Permasalahannya adalah dakwah tidak seperti pohon jagung yang 3 bulan dapat panen. Atau seperti pohon durian yang harus ditunggu hingga tahunan baru dapat dipanen pertama kali. Dakwah tidak dapat memiliki kepastian seperti itu, karena ia pekerjaan yang diperuntukkan kepada Allah sehingga hasilnya pun hanya Allah semata yang akan menentukan. Baca lebih lanjut

Memilih Untuk Tidak Memilih

2014. Di Indonesia, tahun ini memiliki arti sebuah jadwal periodik dari sistem demokrasi akan mulai berdentang. Pemilu, dari mulai pilpres, pilkada, dan pil-pil lainnya. Ditandai dengan banyaknya spanduk dan foto dari mereka-mereka yang menjagokan diri dalam ajang periodik ini.

Satu isu yang tidak kunjung berhenti dibicarakan menjelang pemilu adalah golput, golongan putih, mereka yang menolak untuk memilih atau memberikan dukungan yang menjadi hak mereka kepada siapapun atau parpol manapun. Tentu ini adalah hak dari setiap warga negara di Indonesia, sampai sejauh ini tidak ada negara demokrasi manapun yang melarang golput.

Setiap pilihan kita sebagai manusia memiliki konsekuensi logis. Ini adalah nilai yang saya jadikan pegangan selama hidup saya. Konsekuensi baik yang akan dirasakan di dunia, maupun di akhirat. Keduanya sama nyatanya, namun yang pertama memiliki bobot yang lebih ringan dari yang belakangan. Kesadaran akan konsekuensi inilah yang menjadikan manusia sebagai mahluk yang penuh dengan pertimbangan, atas setiap sikap dan kebijakan mereka. Dan kesadaran ini jugalah yang menjadikan saya sebagai salah seorang yang memilih untuk tidak memilih. Baca lebih lanjut